Serba Serbi
Bhuta Galungan, Ini Makna Penampahan Hingga Galungan
Hari ini, Minggu (Redite) Paing Wuku Dungulan, memiliki makna tersendiri dalam Hindu Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari ini, Minggu (Redite) Paing Wuku Dungulan, memiliki makna tersendiri dalam Hindu Bali.
Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa Sang Hyang Kala Tiga turun ke dunia menjelma menjadi Bhuta Galungan.
Ia mengharapkan mangsa dan minuman.
Karena itu, para pendeta dan orang-orang bijaksana senantiasa berwaspada.
Baca juga: Sang Hyang Kala Tiga Mulai Turun ke Dunia, Begini Makna Penyekeban Galungan
Baca juga: Galungan Sebentar Lagi, Apa Esensinya Dalam Ajaran Hindu Bali
Baca juga: Arti Sugihan Jawa Dan Sugihan Bali, Dua Hari Suci Sebelum Galungan Dalam Hindu Bali
Agar mengekang batin, sehingga selalu dalam keadaan hening dan suci.
Sebagai upaya tidak dirasuki oleh Bhuta Galungan.
"Adanya hal demikian itu, menyebabkan hari Minggu Paing Dungulan panyekeban oleh masyarakat," kata I Nyoman Suarka, Koordinator Tim Alih Aksara Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama.
Kemudian keesokan harinya, pada Senin Pon Dungulan.
Merupakan hari suci bagi umat manusia untuk melakukan yoga semadi secara bersungguh-sungguh.
Dan benar-benar bersujud berbakti pada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Karenanya, pada Senin Pon Dungulan disebut panyajan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Lalu pada Selasa Wage Dungulan, disebut penampahan Galungan.
Ini merupakan waktu bagi Bhuta Galungan mencari mangsa.
Oleh sebab itu, umat manusia di setiap desa pakraman patut menyambutnya dengan membuat upacara Bhuta Yadnya.
Yang dilaksanakan di perempatan desa, segala bentuk dan tingkatan upacara diperbolehkan.
Namun tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Mulai pada tingkat nista, madia, hingga utama.
"Upacara itu dipimpin oleh pendeta, baik pendeta Siwa maupun pendeta Budha," sebut dosen Fakultas Ilmu Budaya Unud ini.
Pada hari itu, segala jenis senjata peperangan wajib dibuatkan upacara untuk mendoakan munculnya kekuatan dan keampuhan pada senjata tersebut.
Terutama dibuatkan sesajen prayascita dan dipimpin pendeta.
Agar senjata itu benar-benar ampuh di medan perang.
Perlu dibuatkan upacara persembahan kepada bhuta kala atau caru di setiap rumah.
Berupa segehan warna 3 tanding, formasinya diatur menurut neptu.
Yaitu putih neptunya 5, merah neptunya 9, kuning neptunya 7, hitam neptunya 4, dan campuran lima warna neptunya 8.
"Lauknya berupa daging babi," sebutnya.
Sesajen itu juga dilengkapi dengan segehan agung satu tanding.
Adapun tempat melakukan upacara caru tersebut adalah di halaman rumah, halaman sanggah, ataupun jalan keluar masuk perumahan.
Dengan cara memanggil Sang Bhuta Galungan.
Suami-istri patut melakukan upacara byakala dan prayascita.
"Bagi suami wajib ngayah sesajen sasayut sambil memusatkan batin dan melapalkan doa untuk memohon keperkasaan dan kekebalan," jelasnya.
Mengenakan busana perang, baik dalam wujud nyata (sekala), maupun tidak nyata (niskala).
Pahalanya adalah perkasa dan menang dalam peperangan.
Kemudian setelah itu, pada Rabu Kliwon Dungulan dinamakan Galungan.
Ini bermakna bangkitnya kesadaran, titik pemusatan batin yang terang benderang.
Melenyapkan segala bentuk kegalauan batin, dengan cara mempersembahkan sesajen kepada para dewa di sanggah dan parhyangan.
Di atas tempat tidur, di halaman rumah, di lumbung, di dapur, di jalan keluar masuk perumahan, di tumbal, di tugu, di hulu kuburan, di hulu desa, di hulu sawah, di hutan, di gunung, di lautan, termasuk di segala jenis perabotan rumah tangga.
Semua dibuatkan sesajen.
Adapun sesajen yang patut dipersembahkan di sanggah.
Baik dalam tingkatan besar ataupun kecil.
Terdiri atas tumpeng panyaag, penek, wawakulan, canang raka, ajuman, sedah woh, kembang pahes, wangi-wangi, pasucian.
Sesajen yang patut dipersembahkan di parhyangan terdiri atas tumpeng pangambeyan, jerimpen, pajegan, sodahan beserta perlengkapannya.
Lauknya sate babi dan daging babi goreng.
Upacara itu dilaksanakan pada pagi hari, dilengkapi sarana persembahan lainnya.
Berupa bunga harum, dupa, kemenyan, dan astanggi.
Sesajen tersebut dibiarkan tetap berada di tempat-tempat pemujaan tersebut selama satu malam.
"Esok paginya semua umat patut menyucikan diri lahir batin pada saat matahari terbit," katanya.
Dengan mengambil air suci di tempat permandian suci, berkeramas, mandi dan kemudian mempersembahkan bunga harum serta memohon air suci di sanggah.
Lalu menyuguhkan segehan di halaman rumah.
Setelah selesai barulah sesajen-sesajen yang dipersembahkan kemarin itu, dapat diambil dan diayab oleh sanak keluarga.
Semua didoakan keselamatannya.
Terutama semua anggota keluarga menyucikan batinnya.
Dipimpin oleh pendeta agar berjaya dalam peperangan.
Bagi pendeta agung dan orang-orang bijaksana, yang memahami rahasia ajaran suci.
Tentu menggelar yoga.
Melakukan dyana dan semadi pada hari Galungan itu.
Adapun sesajen persembahan yang ditujukan kepada Bhuta Kala di setiap rumah warga adalah segehan warna tiga tanding.(*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)