Berita Tabanan
Wayan Mokoh Produksi Mi Berbahan Kelor di Tabanan, Tanpa Pengawet & Bermanfaat untuk Kesehatan Mata
Pria paruh baya itu tampak sibuk menggiling makanan berbahan dasar tepung berwarna kehijauan di rumahnya di Banjar Buahan Utara
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pria paruh baya itu tampak sibuk menggiling makanan berbahan dasar tepung berwarna kehijauan di rumahnya di Banjar Buahan Utara, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, Jumat 9 April 2021.
Adalah I Wayan Sumerta Dana Arta yang merupakan pemilik industri rumahan bernama Mi Kelor Gud.
Usaha ini tercetus di tengah pandemi Covid-19 dengan harapan memberikan asupan makanan tanpa bahan pengawet dan bermanfaat bagi kesehatan mata karena bahan dasarnya daun kelor.
Pria yang lebih akrab disapa Wayan Mokoh ini menceritakan, usahanya sudah berjalan selama satu tahun atau sejak April 2020.
Baca juga: Kisah Biker Wanita Bali,Sebelum Berkendara Moge Harus Tunaikan Kewajiban Rumah Tangga & Cek Kalender
Baca juga: Kisah Ira Gadis 19 Tahun yang Dinikahi Pria 58 Tahun, Ternyata Bora Sempat Lamar Ibu Istrinya
Baca juga: Kisah Tiga Bocah Miskin Muntigunung Karangasem, Desi Berjualan ke Batubulan Lima Hari Sekali
Bermula dari gagasannya untuk permainan tradisional yakni meplalian mejukjukan.
Permainan tradisional itu bertujuan menekan kebiasaan bermain HP dan melestarikan tradisi.
Anak-anak sekarang lebih senang bermain HP ketimbang permainan di luar rumah sehingga dicemaskan mata mereka mudah rusak.
Dari sana ia mulai berpikir jenis makanan yang cocok mengobati mata.
Beberapa bulan mempersiapkan, ia menemukan daun kelor yang dipercaya ampuh sebagai obat tradisional mata.
Hal ini didukung lingkungan tempat tinggalnya yang masih gampang mendapatkan kelor.
Dia coba menggunakan daun kelor ini dari saripatinya karena diketahui anak-anak tak begitu suka kelor yang langsung dimakan sehingga dikonsep menjadi mi instan.
"Kandungan kelor ini sangat luar biasa untuk mata karena vitamin A di kelor sangat ampuh mengurangi iritasi mata," jelasnya.
Inspirasi kedua kebetulan anaknya sangat senang makan mi instan.
Dia meracik mi instan dari saripati daun kelor sehingga karbohidrat dan protein terpenuhi.
Terakhir, ia terinspirasi pengalaman kawannya dari Lampung.
Wayan Mokoh sempat tinggal di Lampung selama 20 tahun.
Di sana kawannya sukses menjual mi tetek khas daerah setempat.
"Selain inspirasi tersebut, masa pandemi juga membuat kami berpikir kenapa gak saya buat aja. Mi merupakan bahan pokok yang selalu digemari masyarakat dari berbagai kalangan," ujarnya.
Wayan menjual Rp 6 ribu per bungkus.
Saat ini ia mampu menjual 25 bungkus per hari khusus untuk wilayah Tabanan.
Wayan Mokoh menuturkan, pengolahan mi sangat gampang.
Alatnya mudah ditemui di toko-toko terdekat di sekitar kita.
Bahannya mulai dari tepung terigu tinggi protein, telur ditambah saripati daun kelor.
"Ini saya olah sendiri. Satu kilo adonan bisa menghabiskan waktu satu jam," katanya.
Untuk sementara, mi kelor olahan Wayan berupa mi goreng dan ke depan dikembangkan menjadi mie kuah.
"Sementara masih mie goreng dengan tingkat kepedasannya maksimal level 15," ungkapnya.
Dia berharap home industri atau produk lokal makin dicintai masyarakat.
Apalagi pemerintah juga menyatakan agar masyarakat lebih banyak membeli produk lokal untuk memperkuat ekonomi.
"Mari cintai produk lokal," tandasnya.(*).