Berita Badung
Gabungan Usaha Ternak Bantah Makan Olahan Babi Penyebab Radang Otak, Suyasa: Tak Perlu Panik
Gabungan Usaha Ternak Bantah Makan Olahan Babi Penyebab Radang Otak, Suyasa: Tak Perlu Panik
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali sangat menyayangkan isu dugaan warga di Badung terkena peradangan selaput otak karena memakan babi yang ada bakteri.
Kabar itu pun menyebar luas hingga masyarakat semakin resah mengkonsumsi daging babi.
Padahal informasi tersebut belum tentu kebenarannya karena sejauh ini baru bersifat dugaan.
Demikian ditegaskan oleh Ketua GUPBI Bali, Ketut Hary Suyasa saat dikonfirmasi Kamis 13 Mei 2021.
Baca juga: Terkait Dugaan Warga Keracunan Daging Babi, Bupati Badung Perintahkan Keswan Turun ke Desa Adat Samu
"Untuk diketahui streptococus suis tersebut merupakan penyakit radang otak yang ditularkan babi ke manusia. Namun setelah kami telusuri warga tidak melihatkan ciri-ciri terkena penyakit tersebut ," katanya.
Ia menegaskan, penyakit streptococus suis atau yang dikenal dengan meningitis tersebut secara resmi belum pernah ditemukan di Indonesia.
Suyasa pun meyakinkan, warga yang sakit usai memakan olahan babi tidak terkena meningitis.
"Mendapat laporan adanya hal tersebut, selaku ketua GUPBI saya langsung turun kelapangan dengan mencari kepastian," jelasnya
Terlebih lagi, kata dia, warga yang sakit tersebut baru mengeluh satu minggu setelah memakan olahan daging babi.
"Sesuai dengan ciri-ciri klinis, warga atau pasien yang dirawat tidak sama sekali mencirikan streptococus suis. Ini mohon berhati-hati dan dipahami.
Jika berbicara tentang babi tidak berbicara tentang kesehatan manusia atau yang mengkonsumsinya saja. Melainkan juga berbicara dampak sosial, ekonomis dan budaya," jelasnya sembari mengatakan babi di Bali bukan produk ekonomi saja, tetapi juga budaya.
Baca juga: Diduga Memakan Daging Babi yang Terkena Virus, Sejumlah Warga di Badung Dilarikan ke RSD Mangusada
Ia menyesalkan isu yang belum tentu kebenarannya itu begitu cepat menyebar di masyarakat.
Tak hanya akan membuat masyarakat takut memakan daging babi, hal ini juga akan berdampak pada pelaku usaha olahan babi.
"Jadi sampai sekarang belum diketemukan bahwa penyakit yang diderita warga itu karena mengkonsumsi olahan daging babi. Maka dari itu kita minta masyarakat tidak perlu panik, apa lagi penyakit itu belum pernah ada di Indonesia," tungkasnya.
Dilarikan ke RSD Mangusada
Sebelumnya, sejumlah warga asal Desa Adat Samu, Desa Mekar Bhuwana, Abiansemal Badung dikabarkan dilarikan ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Mangusada pada Selasa 11 Mei 2021 kemarin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/babi-guling-virus-asf-2020.jpg)