Berita Bali
Soal Wacana Wisata Medis di Bali, Kadispar Sebut Ada Potensi dan Perlu Kajian Mendalam
pihaknya menyambut baik wacana tersebut mengingat Bali sendiri menurutnya memiliki potensi dan peluang besar untuk menerapkan wisata medis itu
Penulis: Ragil Armando | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM – Untuk menggenjot perekonomian Bali yang bergantung dari sektor pariwisata berbagai cara dilakukan oleh pemerintah pusat.
Salah satunya dengan menggagas wacana wisata medis di Bali.
Wacana itu sendiri sebelumnya dilontarkan oleh Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno.
Terkait wacana itu sendiri, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Bali, Putu Astawa mengakui bahwa wacana tersebut baru sebatas menyeruak dari berbagai Focus Group Disscussion (FGD) semata.
Baca juga: Dr. Fajar: Jika Ingin Optimal, Kembangkan Broker dan Makelar Wisata Medis Pada Negara-negara Tujuan
“Itu sepertinya baru sebatas Focus Group Discussion ya, jadi baru semacam menggali informasi, menyiapkan konsep ya,” kata dia saat dikonfirmasi, Senin 17 Mei 2021.
Pun begitu, pihaknya menyambut baik wacana tersebut mengingat Bali sendiri menurutnya memiliki potensi dan peluang besar untuk menerapkan wisata medis itu,
Apalagi, menurut Mantan Kepala Bappeda Bali ini Bali memiliki konsep kearifan lokal terkait medis, seperti yoga, meditasi, dan usadha Bali atau pengobatan tradisional ala Bali.
“Karena melihat peluang Bali sebenarnya menjadi pasar itu kan punya potensi cukup besar, minimal untuk orang Indonesia yang tidak berpergian keluar berobatnya, sehingga bisa ke Bali. Apalagi Bali memiliki konsep kearifan lokal, seperti yoga, meditasi, kan bagus juga ya,” terang dia.
Namun begitu, menurut dia untuk menyiapkan wisata medis tersebut ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh pihaknya dan para stakeholder terkait.
Salah satunya dengan menyiapkan sarana dan prasarana serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk melayani medical tourism tersebut.
“Kan konsep-konsepnya seperti penyiapan SDM, apalagi kalau internasional kan minimal bisa bahasa Inggris, harus terakreditasi badan terkait juga terkait kompetensi mereka di bidang kesehatan untuk menjadi medical tourism,” ujar dia.
Oleh sebab itu, pihaknya saat ini akan mengkaji berbagai peluang dan tantangan untuk menerapkan konsep wisata medis di Bali.
Pasalnya, pihaknya tidak ingin sekedar main-main dalam menerapkan pola wisata tersebut.
“Tapi ini kan tidak sekedar membangun, perlu kajian yang cukup detail, dimana akan dibangun, seperti apa SDM yang akan menangani kan begitu,” paparnya.
Baca juga: Wisata Medis Terkendala Pada Harga yang Dinilai Cukup Tinggi, Begini Saran dr. Fajar
Astawa juga menyebut bahwa penerapan wisata medis ini sendiri menurutnya tidak bisa dilakukan dalam tahun ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-pariwisata-dispar-provinsi-bali-putu-astawa122.jpg)