Breaking News:

Israel

PM Palestina Anggap Pemerintahan Baru Israel Sama Buruknya dengan Rezim Netanyahu

Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh pada Senin 14 Juni 2021.

Editor: DionDBPutra
YONATAN SINDEL / POOL / AFP
Pemimpin partai Yemina Israel, Naftali Bennett, menyampaikan pernyataan politik di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada 30 Mei 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, RAMALLAH- Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh melukiskan, tergulingnya Benjamin Netanyahu menutup bab tentang satu periode terburuk konflik Israel-Palestina.

Walau demikian pemerintahan baru Israel berpeluang sama buruknya dengan rezim Netanyahu.

Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh pada Senin 14 Juni 2021.

Baca juga: Pesohor Dunia Menyambut Pemimpin Baru Israel, Mulai Joe Biden Sampai Justin Trudeau

Baca juga: Jabatan 12 Tahun Netanyahu Berakhir, Inilah Naftali Bennett PM Baru Israel Sang King Maker

"Lengsernya perdana menteri Israel setelah 12 tahun berkuasa menandai berakhirnya salah satu periode terburuk dalam sejarah konflik Israel-Palestina," ujar Shtayyeh jelang pertemuan kabinet mingguan Otoritas Palestina, dikutip dari AFP

Pada hari Minggu 13 Juni 2021, parlemen Israel atau Knesset memberikan suara yang memenangkan pemerintahan baru pimpinan nasionalis Yahudi sayap kanan Naftali Bennett.

PM Israel Benjamin Netanyahu. Biografi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski mendapat kecaman dari dunia internasional, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya tak akan menghentikan pengeboman mematikan di jalur Gaza.
 Benjamin Netanyahu.  (AFP/MENAHEM KAHANA)

Koalisi pemerintahan baru Israel termasuk partai sayap kanan, tengah, dan sayap kiri, serta partai konservatif Islam di Israel.

PM Shtayyeh mengatakan, dia tidak merasa pemerintahan baru Israel bakal menjajaki perjanjian damai dengan Palestina.

"Kami melihat pemerintahan baru ini sama buruk dari yang sebelumnya, dan kami mengecam pengumuman perdana menteri baru Naftali Bennett untuk mendukung permukiman Israel," kata Shtayyeh merujuk pada aktivitas konstruksi Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.

"Pemerintah baru tidak bisa diharapkan jika tidak mempertimbangkan masa depan rakyat Palestina dan hak-hak sah mereka," kata Shtayyeh.

Naiknya Naftali Bennett sebagai PM baru Israel juga dikhawatirkan bisa berujung tindakan lebih keras terhadap Palestina.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved