Kiat Tribun Bali
Penelitian Ilmiah: Pura Pura Bahagia Ternyata Berdampak Positif
Dalam ilmu psikologi, kedua hal di atas disebut sebagai emotion regulation atau pengaturan emosi.
TRIBUN-BALI.COM- Di tempat kerja, kita kadang berusaha menyembunyikan kemarahan agar tidak membuat orang lain terluka; atau sebaliknya berpura-pura bahagia demi menyenangkan hati mereka.
Lantas apakah kedua hal itu baik?
Dan apa dampak kedua sikap itu bagi teman-teman di kantor kita?
Dalam ilmu psikologi, kedua hal di atas disebut sebagai emotion regulation atau pengaturan emosi.
Sebuah penelitian oleh dua orang profesor, yakni Prof. Stephane Cote dari University of Toronto (Kanada) dan Prof. Laura M. Morgan dari Harvard University (Amerika Serikat) menunjukkan bahwa menyembunyikan marah akan berdampak negatif, sedangkan pura-pura bahagia justru berdampak positif.
Hasil penelitian mereka itu dipublikasikan di Journal of Organizational Behaviour pada Desember 2002 lalu.
Baca juga: Riset Ilmiah: 4 Hal Ini Paling Bisa Prediksi Apakah Pernikahan Akan Jadi Bahagia, Derita Atau Cerai
Dijelaskan, saat menyembunyikan kemarahan atau emosi-emosi negatif lainnya, seseorang cenderung tidak puas dalam pekerjaan dan memperbesar keinginannya untuk keluar atau berhenti kerja.
Sedangkan saat berpura-pura bahagia, kita malah tidak hanya membuat orang lain ikut bahagia, tetapi juga membuat diri kita lebih bahagia, lebih puas di tempat kerja, dan lebih ingin loyal pada kantor kita.
Hal ini sepertinya juga berlaku dalam kehidupan keluarga, meskipun belum ada penelitian tentang hal ini dalam keluarga. Namun, bila seseorang suka menyembunyikan kemarahan, ia akan lebih menderita dalam perkawinannya dan lebih berisiko untuk bercerai.
Baca juga: Ini 5 Cara Terbentuknya Mindset atau Pikiran, Pelajaran dari Kutu Anjing
Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi
Sementara jika seseorang pura-pura bahagia demi membahagiakan pasangannya, lama-lama dia akan benar-benar lebih bahagia. Rentetannya, pasangan dan anak-anak turut pula bahagia, sehingga pernikahan dapat berjalan lebih langgeng.
Fenomena ini disebut “fake it until you make it”, yang artinya berpura-pura lah dalam suatu hal yang baik sampai anda menguasainya.
Misalnya, awalnya berpura-pura bahagia, hingga akhirnya benar-benar berbahagia. Awalnya berpura-pura murah senyum, hingga akhirnya terbiasa bermurah senyum.
Berpura-pura di sini dapat diibaratkan sebagai doa dan harapan. Sebab, tidak semua doa itu berupa ucapan. Perbuatan pun bisa termasuk sebagai doa dalam bentuk yang terlihat.
Baca juga: Temuan Ilmiah: Ini 3 Ciri Orang-Orang Hebat Dunia, Salah-satunya Suka Menunda
Baca juga: Pesan Indah dari Kisah Paket Berbungkus Kresek Hitam
Namun, jangan berpura-pura untuk hal yang negatif. Karena kepura-puraan untuk hal negatif bisa menjadikan seseorang benar-benar menjadi negatif. Misalnya berpura-pura sakit, itu bisa mewujud menjadi benar-benar sakit.
Untuk diketahui, menyembunyikan kemarahan tidak sama dengan mengendalikan kemarahan.
Menyembunyikan kemarahan berarti anda sebenarnya sedang dan terus marah, namun tidak menunjukkannya.
Sedangkan mengendalikan amarah berarti anda sempat merasa marah tetapi menemukan cara untuk membuat hati anda lega dan tidak marah lagi.
Kemarahan menciptakan suatu energi yang kuat. Jika kemarahan dibiarkan, ia dapat merusak. Namun jika disalurkan ke hal-hal positif, itu akan menghasilkan sesuatu yang besar.(*)
Artikel ini sebagian besar dikutip dari buku Healing The Soul; 99 Cara Menyemai Cinta dan Bahagia, karya Ahmad Faiz Zainuddin; terbitan Afzan Publishing, 2019.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ekspresi.jpg)