Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Pesan Indah dari Kisah Paket Berbungkus Kresek Hitam

Kebahagiaan hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa kita kontrol. Dengan kata lain, kebahagiaan hanya datang dari dalam.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ilustrasi kresek hitam 

Sebetulnya kisah nyata ini sudah terjadi, mungkin, sekitar 12 tahun silam. Entah mengapa, pada pagi hari kemarin, saya tiba-tiba teringat kisah itu, lalu menelepon adik saya (Nono) dan mengingatkannya tentang kisah di mana dia menjadi salah-satu aktornya.

“Iya hehe,” terdengar tawa lirih Nono di pelantang suara hape saya saat saya membuka obrolan tentang kisah unik itu. Nono tinggal di Jakarta, dan saya meneleponnya dari Denpasar.

Alkisah, pada suatu sore Nono (kala itu masih tinggal di Surabaya) mendapat kiriman sebuah paket yang diantarkan oleh seorang abang becak di mulut gang tempat tinggal orangtua kami. Paket itu dibungkus tas kresek hitam. Ada berlapis-lapis tas kresek yang membungkusnya.

“Mas Nono, tadi ada seorang lelaki bertanya kepada saya tentang alamat rumah mas Nono. Saya jawab bahwa rumah mas Nono dekat sekali, dan saya tahu rumahnya. Lelaki itu kemudian menitipkan paket ini kepada saya untuk diberikan ke mas Nono,” kata si abang becak yang menemui adik saya di rumah, sambil menyerahkan paket.

Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi

Abang becak itu menuturkan, lelaki pemberi paket itu bersepeda motor dan memakai helm teropong saat bertanya kepadanya. Lelaki itu tidak sampai turun dari sepeda motor, namun sempat mengambil duit di dompetnya dan memberikannya ke abang becak, mungkin sebagai “biaya antar paket”. Segera kemudian, lelaki itu melesat pergi bersama motornya.

Setelah paket diterima dan abang becak itu pergi, adik saya membuka isi paket. Lapis demi lapis tas kresek hitam yang membungkus paket itu dilepasnya. Ketika menjelang membuka selapis kresek bungkusan terakhir, adik saya mulai curiga ada yang tidak beres. Tercium bau busuk.

“Oh, kurang ajar,” teriak adik saya spontan.

Ternyata isi paket itu sampah busuk ! Baunya menyengat hidung.

Tak butuh lama bagi Nono untuk meyakini bahwa pengirim paket itu adalah seseorang yang sakit hati. Sakit hati akibat Nono jadian (berpacaran) dengan Ria. Orang itu tentu juga naksir Ria. Beberapa hari sebelumnya setelah jadian dengan Ria, Nono beberapa kali merasa sudah terintimidasi.  

Istri saya pun mendengar kisah itu, dan tatkala nguping penuturan saya pagi itu, ia tertawa.

“Sepertinya memang cukup banyak cowok yang naksir Ria, mas. Ya… ini soal persaingan memperebutkan cewek hmm. Maka, ketika Ria akhirnya jadian dengan saya, banyak yang kecewa dan sakit hati. Cuma si pengirim paket ini sepertinya sakit hati sekali,” ujar Nono kepada saya, dengan nada senyum.

Nono mengakui, kini ia bisa menuturkan peristiwa itu dengan enteng. Namun, pas ketika peristiwa berlangsung, spontan perasaannya campur aduk antara kaget, terhina dan marah. Akan tetapi, tak berselang lama, pikiran sadarnya jalan dan ia mulai bisa menguasai keadaan serta memikirkan responnya.

Dari informasi yang disampaikan si abang becak, tidak jelas identitas pengirim paket tersebut. Paket itu anonim. Namun, Nono memiliki dugaan kuat siapa pengirim paket itu.

“Saya menduga paket itu dikirim oleh si X, karena dia yang selama ini terlihat sangat ngebet mendekati Ria,” lanjut Nono, yang kini sudah 10 tahun menjalani hidup berumah tangga dengan Ria.

“Namun, setelah saya timbang-timbang, saya merasa tidak perlu mengusut atau membuat perhitungan untuk membalas. Saya anggap pengirimnya orang sakit. Dia tidak gentle. Kalau saya ladeni dan bertindak bodoh, bisa-bisa malah merugikan diri saya sendiri dan orang lain. Saya ambil hikmahnya saja,” kata adik saya, yang sengaja saya gali ceritanya untuk tulisan ini.

Menjadi Diri Sendiri dan Masa Bodoh

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved