Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Pesan Indah dari Kisah Paket Berbungkus Kresek Hitam

Kebahagiaan hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa kita kontrol. Dengan kata lain, kebahagiaan hanya datang dari dalam.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ilustrasi kresek hitam 

                                                      ***

Dalam kasus paket sampah tersebut, Nono bilang sebetulnya ia bisa saja memberi respon negatif. Kan masih wajar toh orang jadi kaget, terhina serta marah dikirimi paket sampah busuk?

Memang, sempat Nono marah. Bisa jadi itulah yang disebut neurosepsi, yakni reaksi spontan dari pikiran bawah sadar atas stimulus (kejadian) di luar diri. Kecepatan neurosepsi itu sepersekian detik dari munculnya stimulus.

Namun, Nono kemudian memilih meresponnya secara positif setelah menyaring berbagai kemungkinan konsekuensi jika tetap marah atas kiriman paket itu. Malahan, kini (belasan tahun kemudian) ia bisa menceritakan kejadian itu dengan senyum. Dan terbukti, responnya berbuah happy ending.

”Lha iya orang ternyata beraneka macam coraknya, kok bisa sampai ada yang seperti itu,” ucap adik saya pagi itu di ujung telepon.

Penuturan Nono ini mengingatkan saya pada yang diungkapkan oleh seorang kawan. Bahwa sesungguhnya masalah atau kejadian apapun (stimulus) yang mengenai seseorang, itu pada dasarnya bersifat netral. Persepsi atau penafsirannya-lah yang membuat kejadian itu kemudian bisa bermakna negatif, positif atau biasa saja.          

Andaikata Nono memilih berpersepsi dan merespon negatif, kisah kiriman paket sampah itu tentu akan tersimpan sebagai pengalaman traumatik di memorinya.

Dan jikalau demikian, pengalaman buruk itu akan terus “digendongnya”, membuatnya selalu was-was atau berdebar setiap menerima kiriman paket dengan kemasan kresek hitam.

Ahli psikologi juga membenarkan, respon atau tanggapan seseorang terhadap peristiwa atau persoalan ditentukan oleh persepsinya atas peristiwa itu.

Persepsi atau penafsiran dipengaruhi oleh nilai-nilai seseorang. Nilai (value) merupakan seperangkat kriteria, yang menjadi filter terhadap mana yang dianggap penting, baik dan berharga (positif) bagi diri seseorang; serta mana yang dianggap sebaliknya (negatif) dan biasa saja.

Di dalam nilai-nilai terkandung antara lain pengetahuan, ekspektasi, kepentingan, pengalaman, bahkan juga kepribadian.

Value itulah yang menentukan fokus seseorang, sehingga hal-hal yang dinilainya penting dan berharga akan mendapat prioritas perhatiannya.

Uniknya, value tidak bicara tentang benar dan salah dari kacamata obyektivitas, apalagi obyektivitas ilmiah. Ia subyektif.

Bagi si pengirim paket sampah itu, tindakan yang dia lakukan tentu dianggapnya benar; dan sebaliknya Nono dianggapnya di posisi salah sehingga ia “menghukumnya” dengan mengirim paket itu.

Value adalah bentuk lain dari belief (keyakinan). Akan tetapi, harus bisa dibedakan antara belief dan agama. Belief adalah suatu kondisi mental, sedangkan agama merupakan sebuah identitas. Dalam konteks ini, keduanya berbeda.  

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved