Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Pesan Indah dari Kisah Paket Berbungkus Kresek Hitam

Kebahagiaan hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa kita kontrol. Dengan kata lain, kebahagiaan hanya datang dari dalam.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari
Ilustrasi kresek hitam 

Belief setiap orang bersifat personal dan selalu benar menurut masing-masing orang,” demikian tulis Dr. Adi W. Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset (Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Kabar baiknya, sebagai suatu konstelasi mental, value dan belief seseorang dapat berubah seiring dengan dinamika interaksi seseorang dengan kehidupan.

Kalau digali lebih jauh, value itu ditentukan oleh asumsi atau landasan yang menjadi dasar berpikir seseorang (basic assumption).

Bagaimana asumsi terbentuk?

Ah, itu akan menjadi bahasan teoritis yang panjang, yang bisa membosankan. Dan saya tak mau, lagipula juga tak berkompeten,  untuk masuk ke sana.

Mari kita ulas saja tentang bagaimana respon atas kejadian atau persoalan yang menimpa kita.

Filsuf Yunani kuno, Epictetus, pernah mengatakan begini: some things are up to us, and some things are not up to us (dalam kehidupan, ada hal-hal yang berada dalam jangkauan kendali kita; dan pula yang di luar jangkauan kendali kita). Itulah yang disebut dikotomi kendali.

Kebahagiaan hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa kita kontrol. Dengan kata lain, kebahagiaan hanya datang dari dalam. Sebaliknya, seseorang tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian hidupnya pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikannya.

“Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti perbuatan dan opini orang lain, status dan popularitas (yang ditentukan orang lain), kekayaan dan lainnya adalah tidak rasional,” ungkap Henry Manampiring dalam Filosofi Teras (Penerbit Buku Kompas, 2019).   

Selain tidak rasional, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal di luar (kendali) diri juga membuat seseorang gampang tergelincir pada sikap menyalahkan orang lain. Ia menjadi tidak bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Orang yang demikian biasanya sulit happy, karena ia terombang-ambing.

Dalam kasus paket sampah tersebut, daripada mengurusi hal-hal yang di luar kendalinya, Nono merasa lebih penting untuk mengontrol apa yang dia bisa kendalikan, yakni pikirannya sendiri dalam menyikapi kejadian itu.

Dia tak ambil pusing dengan sikap orang lain (terutama si pengirim paket), yang itu jelas tidak dapat dengan pasti ia perkirakan apalagi ia dikte.

Menyikapi secara positif dan bahkan kemudian bisa menganggapnya sebagai pengalaman yang lucu, membuat pikiran Nono jadi enteng. Tentu tidak akan demikian halnya andaikata dia dikuasai perasaan terhina dan marah besar.

Akan tetapi, kendati ada hal-hal yang dirasa berada dalam kendali/kontrol manusia, pandangan spiritual mengingatkan bahwa sejatinya tidak ada satu pun dalam kehidupan yang benar-benar sepenuhnya berada di bawah  kendali/kontrol manusia. Selalu ada campur tangan Tuhan.

Sudut pandang ini sejatinya lebih mengingatkan manusia agar  tidak memutlakkan pilihan keputusannya (responnya) sebagai sesuatu yang sepenuhnya pasti baik, pasti benar dan pasti presisi atau tepat.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved