Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Apa Kata Paling Banyak Disebut Terkait Kematian? Ini Menurut Hasil Penelitian

Secara umum, di kalangan media, iklan tentang kematian itu disebut sebagai advertorial duka cita atau obituari.

Penulis: Sunarko | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Gambar oleh Joggie dari Pixabay
Foto ilustrasi tempat pemakaman. Penelitian tentang isi tulisan obituari menemukan hal-hal menarik untuk jadi pelajaran. 

TRIBUN-BALI.COM – Anda tentu pernah kan membaca artikel atau tulisan tentang kematian di surat kabar?

Secara umum itu disebut obituari, kendati ada juga yang berupa advertorial duka cita.  

Sebuah obituari biasanya disertai dengan riwayat hidup dari orang yang meninggal, kiprahnya, termasuk tempat dan tanggal lahirnya.

Nah, sebuah proyek unik dijalankan oleh seorang warga New York City keturunan India. Namanya Lux Narayan.

Baca juga: Perawat Ricardo Almiron Dituduh Lalai yang Menyebabkan Kematian Maradona

Narayan memiliki kebiasaan nyeleneh.

Ia biasa memulai pagi hari dengan sarapan telur urak-arik sambil membaca halaman obituari media terkenal Amerika, New York Times (NYT).

Narayan ternyata tidak sendiri dengan kebiasaan membaca halaman obituari, yang dianggap tidak wajar itu.

Sebab, setidaknya ada 18.000-an ribu follower akun twitter obituari New York Times, yakni @NYTObit.

Sebagai orang yang menggeluti dunia olah data dan analisis digital lewat perusahaan Unmetric yang didirikannya, Narayan tergerak untuk mengamati obituari atau berita kematian di NYT.

Karena menemukan hal-hal menarik dari tulisan obituari itu, Narayan pun menelitinya lebih jauh.

Bahkan, ia kemudian mengajak beberapa rekannya untuk terlibat dalam penelitian itu.

Apa yang menarik perhatian Narayan, sehingga menjadikan penelitian obituari itu jadi semacam “proyek” penelitian tak resmi perusahaannya?

Ternyata, dari pengamatan Narayan dan timnya, konten halaman obituari lebih banyak berkisah tentang perayaan keberhasilan kemanusiaan (humanity).

Diantara isinya menyoroti hal-hal yang menyentuh, namun ada juga yang jenaka, yang justru bisa menginspirasi dan membuka wawasan pembacanya.

“Obituari menyoroti hal-hal menarik yang dilakukan orang (yang sudah meninggal) itu, yang dalam banyak hal, ternyata mereka membuat perbedaan dalam hidupnya,” demikian kata Narayan.

Dengan program perangkat lunak tertentu dan semacam Natural Language Processing, Narayan dan kawan-kawan mulai meneliti isi halaman obituari New York Times yang terbit dari tahun 2015 hingga 2016, selama periode 20 bulan.

Total ada 2.000 halaman obituari yang mereka teliti.

Baca juga: Seribu Lilin dalam Peringatan 6 Tahun Tragedi Kematian Engeline

Setelah melalui penyaringan, ditemukan sejumlah kata kunci yang menarik dari sekian ribu obituari yang diteliti itu.

Salah-satu kata kunci yang paling banyak disebut dalam obituari adalah kata help, yang artinya bantuan.

Intinya, penelitian Narayan menghasilkan sejumlah kesimpulan, yang layak untuk menjadi bahan renungan bagi kita yang masih hidup. Berikut ini beberapa poin kesimpulannya:

1. Salah-Satu Cara untuk Mencapai Sukses: Bantulah Orang Lain Sukses

Narayan dan timnya memisahkan obituari menjadi dua kelompok, yakni kelompok orang terkenal dan tidak terkenal.

Tolak ukur ketenaran mereka adalah: apakah si almarhum/almarhumah yang diobituarikan itu memiliki halaman di Wikipedia atau tidak.

Hasil penelitian Narayan menunjukkan, baik yang meninggal itu orang terkenal ataupun tidak terkenal, satu kata yang paling banyak muncul untuk dikenangkan dalam obituari mereka adalah tentang bantuan (help).

Yakni betapa membantu dan ringan tangan si almarhum/almarhumah selama hidupnya kepada sesama manusia, dengan berbagai cara.

Dari ribuan obituari itu terlihat bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh siapapun untuk mengulurkan bantuan dan membuat dampak positif selama hidupnya.

Salah-satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh almarhum pendeta Rick Curry, seorang imam Katolik.

Semasa hidupnya, ia menyelenggarakan pelatihan menulis dan akting untuk para veteran dan orang cacat.

“Inilah seseorang yang menggunakan drama dan teater untuk mengalihkan perhatian para veteran dan orang cacat dari hal-hal yang mereka alami,” kata Narayan.

Apa yang dilakukan oleh pendeta Rick Curry boleh jadi luput dari perhatian praktisi medis dan yayasan penyantun penyandang cacat dan veteran.

Jadi, kebaikan seseorang-lah yang membuatnya layak untuk dikenang atau diceritakan kisahnya setelah kematian, bukan kekayaan, ketenaran dan kedudukannya. Dan, kata kuncinya: semangat yang besar untuk membantu (help) sesama.

2. Butuh Waktu untuk Membuat Tanda

Dewasa ini manusia lebih suka dengan hal-hal yang serba instan, dan cepat terlihat hasilnya.

Narayan mengatakan, kita begitu terpesona oleh kisah-kisah para start-up yang dengan cepat melambung sukses atau mereka yang sudah jadi jutawan di usia baru dua puluhan tahun.

“Kita lupa bahwa itu adalah perkecualian,” kata Narayan.

Berdasarkan penelitian Narayan terhadap ribuan obituari tersebut, mereka yang dikenang sebagai sukses, meraih prestasi besar pertamanya saat menjelang usia 40 tahun. Bahkan beberapa orang baru meraihnya di usia lebih 40 tahun.

Apa itu artinya?

Tidak ada kesuksesan yang diraih secara instan, ucap Narayan.

Kendati diakuinya, awal usia kesuksesan memang bervariasi untuk satu bidang dengan bidang yang lain.

Di zaman kini yang inginnya serba sukses secara instan, kata Narayan, ini adalah pelajaran tentang nilai kesabaran.

Dan kesabaran itu sama sekali tidak pasif. Bagi wanita dan pria yang dikenang dalam iklan kematian atau obituari itu, puluhan tahun sebelum mereka menorehkan kesuksesan, itu adalah masa-masa yang sibuk, penuh dengan pembelajaran, ujian, kegagalan, dan ketekunan.

“Jadi, untuk benar-benar mahir dalam sesuatu, untuk mencapai tingkat kemahiran tertentu di dalamnya, dan untuk membuat perbedaan serta untuk mendapatkan pengakuan dari situ, pasti dibutuhkan waktu,” kata Narayan.

3. Hidup Kita Bisa Memiliki Arti yang Besar Sungguh pun Tanpa Nama Tenar

Salah satu alasan Narayan suka membaca obituari di NYT adalah bahwa kisah almarhum/almarhumah yang dikenang menorehkan prestasi dan kebaikannya itu bukanlah individu-individu yang selama hidupnya jadi sorotan publik.

Bahkan kebanyakan bukan orang yang memiliki popularitas.

“Banyak dari mereka yang melakukan hal-hal yang layak dikenang itu adalah orang-orang yang belum pernah Anda dengar,” kata Narayan.

Ia sebut salah-satu contohnya ialah Jocelyn Cooper.

Jocelyn adalah seorang event organizer (EO) atau penyelenggara kegiatan untuk masyarakat terpinggirkan di Brooklyn, New York, pada 1960-an.

Kendati Jocelyn berada di balik layar dan tidak tenar, namun dalam obituari terungkap bahwa dialah EO yang banyak berjasa bagi kemunculan Shirley Chisholm.

Jocelyn memberi panggung pertama bagi tampilnya Chisholm pada 1968, yang membuat nama Chisholm kemudian melejit dari “bukan siapa-siapa” hingga akhirnya terpilih sebagai wanita Afrika-Amerika pertama yang duduk di Kongres (parlemen) AS.

Pelajaran paling mendasar yang dipetik di sini adalah tentang kerendahan hati (humility), yang di penghujung hayat seseorang ternyata justru menjadi sesuatu yang sangat bernilai untuk dikenang.(*).

Tulisan ini disarikan dari artikel di www.ideas.ted.com yang berjudul “What 2,000 Deaths Can Teach Us About Living a Good Life” edisi 9 Juni 2017, dan buku The Healing Soul karya Ahmad Faiz Zainuddin, terbitan Afzan Publishing 2019.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved