Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Indonesia

Dua Anak di Indonesia Meninggal Setiap Pekan karena Terinfeksi Covid-19

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini Kementerian Kesehatan tengah mengkaji penggunaan vaksin Sinovac dan Pfizer untuk anak.

Editor: DionDBPutra
Pixabay
Ilustrasi. Jumlah anak yang meninggal akibat Covid-19 kian hari makin bertambah di Indonesia. 

TRIBUN-BALI.COM - Jumlah anak yang meninggal akibat Covid-19 kian hari makin bertambah.

Bahkan menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan, setiap satu minggu setidaknya terdapat dua anak yang meninggal karena Covid-19.
Angka tersebut merujuk pada data yang dihimpun jejaring dokter anak se-Indonesia itu sejak 14 pekan lalu.

”Setiap minggu ada dua anak yang meninggal,” kata Aman dalam webinar Kajian Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka di Provinsi DKI Jakarta yang disiarkan secara live di kanal Youtube Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Sabtu 26 Juni 2021.

Aman menerangkan, hingga saat ini jumlah anak yang terinfeksi Covid-19 sebanyak 12,3 persen dari kasus kumulatif nasional. Sebanyak 2,5 persen di antaranya merupakan anak usia 0-5 tahun, sementara 9,5 persen lainnya anak usia 6-18 tahun.

Baca juga: IDAI Bali : 4.980 Anak di Bali Terpapar Covid-19, Waspadai Aktivitas di Luar Rumah

Baca juga: 13 Gejala Covid-19 pada Anak, Mulai dari Batuk, Demam hingga Hilang Nafsu Makan

Aman memprediksi saat ini jumlah anak yang terinfeksi Covid-19 sudah sekitar 200 ribuan. Namun, jumlah yang terdaftar di IDAI hanya sekitar 100 ribuan anak.

"Berarti banyak sekali anak -anak ini belum terdeteksi dan bisa tiba-tiba datang ke IGD, parah, dan meninggal," kata Aman.

IDAI, kata Aman telah memantau kasus-kasus Covid-19 pada anak sejak wabah yang menjadi pandemi global itu melanda pada 2020 silam. Mereka pun mandiri mengumpulkan data dari seluruh jejaring dokter anak se-Indonesia.

Data tersebut, sambungnya, terus memutakhirkannya saban Senin ketika para anggota IDAI berkumpul setidaknya selama dua jam.

”Kebetulan kita mengikuti setiap Minggu, sejak Maret 2020 setiap hari Senin seluruh ketua cabang IDAI dengan PIC kita kumpul minimal 2 jam membahas, karena kita tidak dapat data dari pemerintah, akhirnya kita dapat data dari seluruh dokter anak," ujarnya.

Mulanya kata Aman, banyak pihak yang menyebut bahwa Covid-19 tidak bisa menginfeksi anak-anak dan mereka tidak bisa meninggal karena virus ini. IDAI bahkan sempat dituding sebagai organisasi masyarakat (Ormas) yang menyebarkan ketakutan.

Namun, pada kenyataannya grafik data anak yang terpapar Covid-19 terus naik dan tidak menunjukkan adanya penurunan. Selain itu, dari grafik tersebut juga tidak menunjukkan adanya gelombang kedua.

"Sejak Maret [2020], IDAI sudah mengatakan anak bisa Covid dan anak bisa meninggal," tutur Aman.

Aman menyebut lebih dari 50 persen anak yang meninggal masih berusia balita dan 30 persen di antaranya berusia 10-18 tahun. Menurutnya, orang tua kerap mengalami kesulitan saat mengatur anak-anak yang berusia belasan tahun ini bersekolah.

Oleh karena itu, IDAI menyayangkan masih ada pihak yang mendebat perihal kematian anak karena Covid tersebut. Ia menantang orang yang meremehkan data kematian anak ini ke pemakaman guna melihat berapa pusara tempat anak-anak dikuburkan.

"Bagi kami sebetulnya satu anak pun tidak boleh ada yang meninggal," ujar Aman.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved