Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

PPKM Darurat, Semua Akses Masuk Pantai di Denpasar Ditutup Sementara

SEMUA akses masuk ke pantai di wilayah Kota Denpasar, Bali, ditutup selama masa PPKM Darurat.

Tayang:
Tribun Bali/Rizal Fanany
Petugas gabungan menghalau warga yang akan menuju Pantai Sanur, Denpasar, Sabtu 3 Juli 2021. Pantai Sanur ditutup selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa-Bali pada 3-20 Juli 2021 sebagai upaya menekan penyebaran COVID-19 - PPKM Darurat, Semua Akses Masuk Pantai di Denpasar Ditutup Sementara 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - SEMUA akses masuk ke pantai di wilayah Kota Denpasar, Bali, ditutup selama masa PPKM Darurat.

Hanya jalur masuk ke Pelabuhan Sanur yang buka namun dengan penjagaan ketat.

Penutupan akses ke pantai dilakukan agar tidak terjadi kerumunan.

Hal ini dikatakan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai, Minggu 4 Juli 2021.

Baca juga: PPKM Darurat Jawa - Bali, Aturan Perjalanan Darat Berlaku Mulai Hari Ini, Jarak Minimal 250 Km

Penutupan akses ke pantai sudah dibahas dalam rapat dengan Camat Denpasar Selatan, Polsek Denpasar Selatan, seluruh perbekel lurah maupun bendesa.

“Tadi sudah kami rapatkan sebagai penegasan lebih lanjut dan sudah sepakat menutup akses wisata ke pantai,” kata Dewa Rai.

Dewa Rai menyebutkan ada 12 titik pintu masuk pantai di Kota Denpasar yang ditutup hingga 20 Juli 2021.

“Penyegelan itu untuk antisipasi penyebaran Covid-19 terutama varian baru. Apalagi pantai di Kota Denpasar rata-rata menjadi tempat rekreasi masyarakat,” katanya.

Untuk melakukan penjagaan di pantai tersebut, pihaknya melibatkan Satgas Covid-19 di desa/kelurahan.

Selain kawasan pantai, ruang publik dan mal juga ditutup.

Hal itu sesuai aturan PPKM darurat karena berpotensi menimbulkan keramaian.

Sementara warung dan rumah makan, kata Dewa Rai, hanya boleh melakukan delivery atau take away.

Tidak boleh makan di tempat.

Pada bagian lain pernyataannya, Dewa Rai meminta masyarakat tak membenturkan keramaian yang terjadi di lokasi vaksinasi dengan keramaian di tempat lain semisal angkringan maupun tempat wisata.

“Ketika terjadi kerumunan di tempat vaksinasi massal, jangan dibenturkan dengan kerumunan di pantai atau tempat wisata. Itu merupakan upaya untuk mempercepat cakupan vaksin,” kata Dewa Rai.

Dewa Rai mengatakan, pemerintah mempercepat pelaksanaan vaksinasi demi melindungi masyarakat dan memperkuat imun.

Banyaknya masyarakat yang datang ke tempat vaksinasi merupakan wujud antusiasme mereka.

Menurutnya vaksinasi massal merupakan pilihan yang baik.

Karena jika hanya andalkan fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes), serapannya sedikit.

Dalam sehari hanya layani 150 hingga 200 orang sehingga cakupan vaksinasi lambat.

“Memang kami sudah menyiapkan beberapa fasyankes, tapi tidak secepat vaksinasi massal, satu hari bisa ribuan orang,” katanya.

Baca juga: Penerapan PPKM Darurat, Bandara Ngurah Rai Bali Implementasikan Ketentuan Perjalanan Sesuai Aturan

Apalagi, kata dia, banyak penduduk pendatang yang baru masuk ke Denpasar belum divaksinasi.

Oleh karena itu, menurutnya perlu ada mobilisasi masa agar mau ikut vaksin dan pelaksanaan vaksinasi bisa lebih cepat.

“Harus dimobilisasi untuk mempercepat sasaran. Misal di banjar klian yang memobilisasi warganya. Makanya kami gandeng pekerja perusahaan, buruh pabrik, komunitas, instansi, hingga organisasi keagamaan untuk gelar vaksin agar cepat,” katanya.

Dikatakannya, jika warga sudah divaksin dua kali maka akan langsung membentuk antibodi.

Dewa Rai menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pembubaran jika ada masyarakat yang berkerumun di kafe, angkringan atau tempat lainnya.

Dikatakannya, PPKM Darurat merupakan langkah mencegah Covid-19 dari hulu.

Terkait masih adanya beberapa tempat yang tak tersentuh dpenertiban PPKM Darurat, menurut dia, bukan bentuk ketidakadilan.

“Bukan tidak adil, ini kan sudah merupakan peraturan, perlu kesadaran, dukungan, dan partisipasi masyarakat, tidak hanya oleh Satgas dan pemerintah ataupun institusi,” katanya.

“Pelaksanaan di lapangan tidak bisa mencakup semua, pasti ada yang belum tersentuh karena keterbatasan kami,” katanya.

Dewa Rai menambahkan, BOR RSUD Wangaya Denpasar hingga saat ini 82,61 persen.

“Itu sudah melebihi syarat dari WHO. Perlu dukungan dan partisipasi masyarakat agar jangan sampai sistem kesehatan masyarakat seperti RS sampai kolaps,” ujarnya. (*).

Kumpulan Artikel Corona di Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved