Serba Serbi
Ini Pentingnya Upacara Pakelem di Laut dalam Kepercayaan Hindu Bali
Harapannya dengan hal itu, terjadi keseimbangan di alam semesta. Baik sekala maupun niskala, dan antar mahluk hidup.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam menjaga keseimbangan alam, telah sejak lama di Bali mengenal yang namanya upacara yadnya atau pengorbanan suci yang tulus ikhlas.
Harapannya dengan hal itu, terjadi keseimbangan di alam semesta. Baik sekala maupun niskala, dan antar mahluk hidup.
Satu diantara upacara menjaga keseimbangan alam semesta ini, adalah dengan mulang pakelem.
"Pakelem adalah suatu upacara yang dilaksanakan di laut ataupun di danau. Di Jawa dikenal dengan nama larung laut atau sedekah laut," jelas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti kepada Tribun Bali, Rabu 7 Juli 2021.
Baca juga: Pasca KRI Nanggala 402 Ditemukan, Pejabat di Bali Gelar Mulang Pakelem dengan Sarana Kambing Hitam
Upacara mapakelem, kata beliau, bagi umat Hindu di Bali adalah merupakan bagian dari caru atau Bhuta Yadnya.
Upacara menghaturkan pakelem biasanya berhubungan, dengan adanya hal-hal yang berkaitan dengan kondisi dan situasi yang terjadi di daerah tersebut.
Misalkan adanya wabah (grubug), adanya huru-hara dan sebagainya.
"Karena umat Hindu di Bali, percaya bahwa pandemi berasal mula dari laut dan tersebar ke seantero jagat, sehingga dikenal dengan istilah demonicforce," sebut pensiunan dosen Unhi ini.
Itulah sebabnya pada zaman dulu orang Bali jarang bermukim di pesisir, dan lebih memilih tinggal agak di pedalaman.
Apabila kondisi dan keseimbangan antara laut dan daratan tidak sempurna maka dipercaya pandemi akan muncul. Misalkan saja, wabah terhadap manusia akan timbul bahkan wabah tanaman seperti hama tikus, walang sangit, dan sebagainya dipercaya berasal dari ketidakseimbangan ekosistem di laut. Untuk itulah perlu diseimbangkan.
Menyeimbangkan kehidupan di laut, dalam ajaran Hindu ada dalam bagian Sad Kertih, yaitu yang disebut dengan segara untuk di laut, dan Danu Kertih untuk di danau.
Upacara penyeimbangan ini secara spritual dilakukan dengan upacara pakelem, sedangkan upacara menyeimbangkan alam secara fisik dilakukan dengan menjaga kebersihan laut.
Seperti misalnya tidak meracuni atau mengebom ikan, tidak merusak terumbu karang dan biota laut, tidak mencemari laut atau danau dengan limbah yang kotor dan beracun, serta selalu menjaga lingkungan laut dan danau agar tetap asri, lestari dan tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang dapat merusak lingkungan.
"Sehingga pakelem berfungsi sebagai permohonan keseimbangan ekosistem kehidupan, agar keharmonisan antara alam dan lingkungan di laut atau di danau dengan manusia bisa terjaga dengan baik," sebut ida.
Baca juga: Penjelasan Tentang Roh Penasaran Dalam Hindu di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelaksanaan-mulam-pakelem-di-perairan-labuan-lalang-kamis-294ds.jpg)