Serba Serbi
Ini Pentingnya Upacara Pakelem di Laut dalam Kepercayaan Hindu Bali
Harapannya dengan hal itu, terjadi keseimbangan di alam semesta. Baik sekala maupun niskala, dan antar mahluk hidup.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Sebab upacara itu adalah pengingat, agar manusia selalu menjaga keseimbangan alam melalui tingkah laku manusia itu sendiri.
Dengan terjaganya keseimbangan antara alam dan manusia maka penyakit atau pasti akan berlalu.
Dalam upacara pakelem, kata ida, pasti menggunakan binatang hidup sebagai korban, misalnya ayam hidup, itik hidup, kambing hidup, sapi hidup serta sebagainya.
"Dengan pelaksanaan hal tersebut, ada beberapa orang yang menanyakan apakah hal tersebut termasuk Himsa Karma. Dalam ajaran Hindu, khususnya Hindu di Bali yang menganut konsep Siwa Siddhanta Indonesia, maka konsep Ahimsa dan Himsa Karma, telah diatur ketentuannya," jelas ida.
Sehingga mana yang disebut atau digolongkan Ahimsa dan mana yang digolongkan sebagai Himsa Karma sudah jelas.
Maka dalam agama Hindu di Bali, sebelum melaksanakan pengorbanan atau pembunuhan maka mereka akan terlebih dulu mengetahui untuk apa mereka membunuh binatang.
Apabila pembunuhan hanya untuk kepentingan pribadi dan tidak untuk kesejahteraan umat, maka itu bisa digolongkan sebagai Himsa Karma, akan tetapi apabila hal itu untuk kepentingan umat bersama, maka pengorbanan itu dibenarkan asal, terlebih dahulu korban tersebut didoakan, atau yang disebut dengan Mapepada.
"Jangankan membunuh binatang, membunuh atau memasak sayur-sayuran pun dalam ajaran Hindu di Bali yang menganut paham Siwa Siddhanta, juga harus berdoa. Maksudnya daun sayuran itu harus didoakan," imbuh ida.
Salah satu doa untuk sayur-sayuran adalah sebagai berikut, 'Ong indah ta kita daun-daunan, saking nariti desa sinangkan ta, pamuliha kita Maring Nariti desa, manembah ya kita maring Sanghyang Rudra. Ong mang namah lingganta'.
Dan seterusnya, begitu juga untuk binatang berkaki dua, berkaki empat, yang berjalan memakai dada misalnya penyu, serta ikan-ikanan dan lain-lainnya, semua terlebih dahulu didoakan, agar yang dikorbankan tersebut nantinya mendapat tempat yang baik dan ketika reinkarnasi agar menjadi manusia kaya atau bahkan pendeta.
Baca juga: Saat Mengingatkan Keturunannya, Leluhur Tak Pernah Marah, Ini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali
Setelah pengucapan doa, barulah binatang itu dikorbankan untuk kepentingan bersama. "Sehingga kita lepas dari konsep Himsa Karma, sesuai dengan ajaran Hindu Siwa Siddhanta Indonesia, yang kita anut di Bali," tegas ida.
Penyupatan binatang tidak hanya bebantenan daksina dan lain-lain, karena itu hanyalah sebagai sarana saja. Tetapi yang penting adalah ketulusan hati manusia saat menyupat (menginisiasi) binatang korban tersebut, sehingga apa yang dimohonkan betul-betul terkabul sesuai dengan tujuannya yang baik dan benar.
Sebab dalam ajaran Hindu di Bali, bahwa pengorbanan yang memiliki tujuan luhur, akan menaikkan tingkat kehidupan selanjutnya atau kehidupan pada kelahiran kemudian. (*)
Artikel lainnya di Serba Serbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelaksanaan-mulam-pakelem-di-perairan-labuan-lalang-kamis-294ds.jpg)