Wawancara Tokoh
Bincang dengan Guru Besar Farmasi UGM, Bergejala Berat Covid-19, Obatnya Lebih Kompleks
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada Prof Zullies Ikawati PhD Apt berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network
Kemudian pada pasien Covid-19 gejala berat, ini obatnya lebih kompleks. Kadang-kadang terjadi peradangan pada paru, sehingga dikasih obat anti radang.
Apalagi ada yang terjadi pembekuan darah, kadang ada yang seperti itu.
Maka harus dikasih obat pengencer darah.
Kemudian mungkin ada gangguan-gangguan lain.
Apalagi misal si pasien sudah memiliki komorbid.
Misal pasien memiliki diabetes, itu kan juga harus dikontrol. Jadi memang ada kemungkinan seorang pasien yang kondisi berat, apalagi dengan komorbid, mereka akan mendapatkan banyak obat.
Tapi sekali lagi, sejauh yang saya tahu tidak ada interaksi yang fatal, apalagi berakibat buruk.
Karena tentu penggunaan obat sudah dipertimbangkan.
Ada obat untuk pasien Covid-19 yang efeknya sama dan berpotensi memicu interaksi obat berdampak negatif?
Kadang ada obat yang efek sampingnya mirip, dan itu dipakai bersamaan kita tidak sarankan.
Misalnya azithromycin dengan levofloxacin.
Levofloxacin ini kan juga suatu antibiotik yang sering dipakai pada Covid-19.
Itu biasanya kita hanya sarankan pilih salah satunya, tidak bisa digunakan dua-duanya.
Di panduan pun disarankan pilih azithromycin atau levofloxacin karena kalau keduanya digunakan, akan meningkatkan risiko yang mengarah pada gangguan irama jantung.
So far tidak ada yang mematikan, dan itu harus dilihat kasus by kasus, karena respons seseorang terhadap obat bisa berbeda-beda.
Bagaimana mengetahui pasien Covid-19 meninggal akibat Covid-19, penyakit bawaan, atau karena interaksi obat?
Tentu saja kita harus melihat riwayat perjalanan penyakit dari pasien tersebut dan juga riwayat obatnya.