Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Olimpiade Tokyo 2020

Kisah Mengharukan dari Tokyo, Momen Dua Sahabat Sepakat Berbagi Emas Olimpiade

Barshim dan Tamberi sudah berusaha untuk menyamai rekor Olimpiade 2,39 meter. Akan tetapi keduanya sama-sama gagal dalam tiga kali percobaan.

Editor: DionDBPutra
AFP/CHRISTIAN PETERSEN
Mutaz Essa Barshim (kiri) dan Gianmarco Tamberi dari Italia merayakan sukses mereka di trek Olimpiade Tokyo 1 Agustus 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, TOKYO - Sikap olahragawan sejati selalu menyemburkan kisah yang membahagiakan.

Momen haru tercipta saat final Olimpiade Tokyo nomor lompat tinggi putra. Secara luar biasa berakhir dengan dua medali emas untuk Mutaz Essa Barshim dari Qatar dan Gianmarco Tamberi dari Italia.

Pascakompetisi melelahkan selama dua jam, keduanya tak terpisahkan dan dengan bersih melakukan lompatan terbaik setinggi 2,37 meter.

Barshim dan Tamberi sudah berusaha untuk menyamai rekor Olimpiade 2,39 meter.
Akan tetapi keduanya sama-sama gagal dalam tiga kali percobaan, melansir BBC.

Baca juga: Update Jadwal Final Sepak Bola Olimpiade Tokyo 2021: Brasil Vs Spanyol Duel Penentuan Medali Emas

Baca juga: Kisah Greysia/Apriyani Sebelum Sukses Raih Emas Olimpiade, Raket Kayu Buatan Ayah Jadi Saksi Bisu

Otoritas Olimpiade mengajukan opsi untuk menentukan siapa yang akan memboyong medali emas Olimpiade Tokyo ke negaranya.

Mereka ditawarkan untuk melakukan lompatan penentuan dengan catatan bebas kesalahan pada hitungan mundur, untuk mengesahkan kepemilikan tunggal gelar (jump-off).

Alih-alih memilih tawaran itu, Barshim dan Tamberi yang membina persahabatan kurang lebih sejak satu dekade lalu ini, justri membuat sejarah.

Mutaz Essa Barshim (kiri) dan Gianmarco Tamberi dari Italia  pose bersama di podium seusai meraih medali emas lompat tinggi putra Olimpiade Tokyo 2020 pada 2 August 2021.
Mutaz Essa Barshim (kanan) dan Gianmarco Tamberi dari Italia pose bersama di podium seusai meraih medali emas lompat tinggi putra Olimpiade Tokyo 2020 pada 2 August 2021. (AFP/INA FASSBENDER)

Untuk pertama kalinya sejak Olimpiade 1912, dua atlet berbagi podium untuk emas Olimpiade cabang atletik.

Versi video lainnya dengan jelas merekam momen saat keputusan bersejarah itu akhirnya diambil.

Barshim dan Tamberi terlihat tengah diberi pengarahan terkait jump-off, setelah ofisial Olimpiade berusaha memecah kebuntuan dan menyatakan hasil pertandingan seri.

“Hasilnya seri. Kita bisa melanjutkan dengan jump off … (penentuan),” kata pengawas Olimpiade itu kepada kedua.

Barshim malah langsung balik bertanya: ”Apakah kami bisa memperoleh dua medali emas,” Ofisial Olimpiade itu mengangguk, "Jika Anda setuju untuk membaginya ..."

Belum habis penjelasan keluar dari mulut pengawas pertandingan, tapi Barshim dan Tamberi tampaknya sudah menyatakan sepakat menghadirkan dua juara dalam perlombaan sengit n itu.

Mereka saling berpandangan dengan Barshim melemparkan anggukan dan mengulurkan tangannya untuk Tamberi (seolah menunggu kesepakatan).

Tamberi menyambut tangan rival yang juga sahabatnya itu, melompat ke arah Barshim dan memeluknya bergelayutan dengan emosi yang meluap-luap.

Pelukan tiba-tiba Tamberi tampaknya mengejutkan Barshim, yang menyeringai lebar setelah kemenangan bersama mereka.

Sementara Tamberi sudah melompat-lompat berlari ke pinggir arena.

Dia berteriak sekencang-kencangnya sampai bersimpuh dan menjatuhkan dirinya ke lintasan lalu berguling-guling menutup mukanya seolah tak percaya.

Barshim dengan perayaan kemenangannya sendiri mengayunkan tangannya yang terkepal ke udara, lalu berlari ke area penonton di mana tim Qatar menyambutnya dengan bendera dan pelukan penuh kebanggaan.

Keduanya sama-sama meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Kedua pria itu akhirnya kembali bertemu dan mengambil beberapa waktu di trek bersama, berjalan berdampingan sambil melambaikan bendera negara masing-masing di atas kepala.

Bangkit dari Cedera

Dalam konferensi pers seusai momen bersejarah itu, para pelompat menerangkan alasan mereka memilih opsi untuk berbagai medali, dan persahabatan lama mereka menjelaskan alasannya.

Kedua atlet mengenang tahun-tahun saat mereka harus mengatasi cedera berat dalam karier mereka. Tetapi Barshim mengatakan pengorbanan itu sepadan, Luar biasa.

"Ini adalah mimpi yang saya tidak ingin bangun darinya."

"Saya telah melalui banyak hal. Sudah lima tahun saya menunggu, dengan cedera dan banyak kemunduran. Tapi kami di sini hari ini berbagi momen ini dan semua pengorbanan. Ini sangat berharga sekarang di saat ini," ungkap Barshim yang juga menambahkan medali emas ke gelar juara dunia berturut-turutnya, dan merupakan pemenang kedua kalinya medali emas Olimpiade Qatar.

Tamberi juga baru pulih dari cedera kaki cedera yang mengancam kariernya, mengharuskannya mengambil waktu istirahat dan gagal berlaga di Olimpiade Rio 2016.

Dalam sebuah foto selebrasi kemenangan lainnya, Tamberi terlihat memegang cast, bertuliskan “Road to Tokyo 2020” di atasnya, seakan dia telah lama mematri semangat dan impiannya untuk berlaga dalam kompetisi tahun ini.

"Setelah cedera saya, saya hanya ingin kembali, tetapi sekarang saya memiliki emas ini, itu luar biasa. Saya memimpikan ini berkali-kali," kata pria Italia itu.

"Saya diberitahu pada 2016 sebelum Rio ada risiko saya tidak akan bisa bersaing lagi. Ini adalah perjalanan yang panjang."

Mutaz Essa Barshim dari Qatar dan Gianmarco Tamberi dari Italia telah lama bersahabat sejak kejuaraan dunia junior 2010 di New Brunswick, kompetisi yang dimenangkan Barshim.

Tapi relasi keduanya tumbuh lebih dalam pada 2018 setelah perjuangan bersama mereka melawan cedera. Pada 2018 Barshim mengalami cedera pergelangan kaki kiri yang parah.

Sementara Tamberi yang berurusan dengan cederanya sendiri kemudian dinyatakan bisa kembali ke kompetisi, meski dokter sebelumnya meragukan pemulihan totalnya.
Kebangkitan temannya itu membantu Barshim ikut bangkit kembali sekuat yang bisa dia lakukan untuk mengatasi lukanya.

"Cederanya sangat parah sehingga kami tidak bisa membayangkan kembali untuk melompat ... Secara mental, fisik, apa yang telah kita lalui -- dia tahu, saya tahu, itu (pemulihan cedera) membutuhkan banyak hal," kata Barshim menurut CBS mengutip Yahoo.

Seolah-olah alur cerita kembali ke masa-masa cedera mereka tidak cukup menginspirasi, pasangan itu juga mengatakan memutuskan berbagi medali emas untuk membuktikan bahwa menang tidak selalu berarti menghancurkan kompetisi secara mental.

Tamberi mengakui, bagaimanapun, itu membantu bahwa Barshim adalah lawannya dalam situasi ini.

"Bukan karena saya tidak menghormati orang lain..Saya menghormati semua pelompat tinggi yang ada di sana. Mutaz mengalami masalah yang sama dengan saya, dan saya tahu apa artinya kembali (ke pertandingan) setelah cedera itu. Saya tahu betapa frustrasinya itu."

Berita lain dari arena Olimpiade Tokyo

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Momen Dua Sahabat Sepakat Berbagi Emas Olimpiade dan Cerita Kebangkitan dari Cedera

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved