Breaking News:

Berita Jembrana

Perajin Ingka di Jembrana Menjerit, Pendapatan Turun Hingga 90 Persen

Perajin tempat makan anyaman khas Bali atau ingka kini menjerit. Hal ini karena pendapatan mencapai 100 persen dari modal yang dikeluarkan.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Perajin tempat makan anyaman khas Bali atau ingka kini menjerit.

Hal ini karena pendapatan tidak mencapai 100 persen dari modal yang dikeluarkan.

Rata-rata per bulan, perajin ingka hanya mendapat sekitar 10 persen dari pendapatan biasa per bulannya.

Satu di antara yang mengalami Dewa Ayu Putu Sudarni, 63 tahun, warga Banjar Kebebeng Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.

Dewa Ayu menuturkan, bahwa perajin ingka saat ini cukup merasakan dampak pandemi.

Baca juga: Warga Binaan Rutan Negara Kembangkan Hidroponik di Jembrana

Pendapatannya merosot hingga 90 persen.

Biasanya sebelum pandemi dan rentetan PPKM, ia mendapat Rp2 juta per bulan (belum dihitung pengeluaran modal).

Kondisi saat ini, per bulan ia hanya bisa mendapat pesanan dan untung hanya Rp200 ribu.

Hal ini membuatnya tidak bisa memenuhi kebutuhan dapurnya.

“Dulu kotor bisa Rp2 juta dapat. Sekarang Rp200 ribu,” ucapnya sembari tertawa keheranan karena kerajinannya menurun drastis.

Baca juga: Usulan Penambahan DTKS Bertambah 437 KK Miskin, Dinas Sosial Jembrana: Menunggu Keputusan dari Pusat

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved