Serba Serbi
Mengenal Seni Bangunan, Mulai dari Jenis Hingga Maknanya di Bali
Seni bangunan tidak kalah pentingnya untuk menunjang pelaksanaan agama Hindu.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seni bangunan tidak kalah pentingnya untuk menunjang pelaksanaan agama Hindu.
Pada dasarnya seni bangunan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni bangunan yang berstatus tempat suci, bangunan yang berstatus pawongan atau disebut bale.
Serta bangunan yang berfungsi umum, semisal balai banjar, wantilan dan lain sebagainya.
Semua jenis bangunan Bali ini, sejak zaman dahulu mengikuti petunjuk lontar Asta Bumi.
Kemudian lontar Asta Kosala Kosali, Janantaka, Bhamakrthih, Dewa Tatwa dan Wisma Karma.
BACA JUGA: Ini Penjelasan Terkait Mitos Bunga Gumitir yang Tidak Boleh Dipakai Sembahyang
Dari berbagai sumber yang dihimpun Tribun Bali, tata letak, tata ruang bangunan Bali berdasarkan aturan tertentu.
Aturan itu disebut sikut atau gagulak.
Proses pembuatan berhubungan dengan perhitungan hari yang baik atau disebut dewasa.
Kemudian disertai upacara tertentu seperti ngeruak karang, nasarin, memakuh, dan melaspas.
Hal ini dilakukan agar terjadi hubungan yang harmonis antara bangunan dan orang yang menggunakannya.
Kemudian penggunaan bahan bangunan pun ada ketentuannya.
Semisal bahan kayu semestinya untuk bangunan suci, maka jangan dipakai untuk bale.
Demikian sebaliknya, bangunan yang semestinya dipakai untuk bale jangan dipakai untuk bangunan suci.
Sebab, berdasarkan keyakinan dan kepercayaan turun temurun, apabila salah menggunakan bahan bangunan maka bisa mendapatkan hal yang kurang baik bagi pemakai atau pemiliknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/salah-satu-bangunan-yang-menggunakan-asta-kosala-kosali-saat-membangunnya.jpg)