Berita Bali
Mengenal Mitos, Legenda Serta Perbedaannya Dengan Karya Fiksi
Mitos dan legenda menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali sejak lama.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mitos dan legenda menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali sejak lama.
Banyak kisah mitos dan legenda yang diceritakan turun-temurun, dan bahkan beberapa dipercaya sebagai sebuah arahan atau peringatan.
Namun, apa sebenarnya arti dari mitos dan legenda, dan apakah semua itu sama dengan fiksi.
BACA JUGA: Warga dan Penumpang di Terminal Gilimanuk Dibuat Heboh Oleh Seekor Rusa Liar yang Berlarian
Berikut penjelasan Dewa Windhu Sancaya, Dosen Kajian Prosa dan Drama, Fakultas Ilmu Budaya, Unud.
"Mitos itu adalah kepercayaan, keyakinan atau pengetahuan tentang sesuatu yang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Baik dibuktikan melalui penelitian dan kajian ilmiah atau akademis," jelasnya kepada Tribun Bali, Senin 30 Agustus 2021.
Kemudian apabila telah terbukti benar secara ilmiah, maka mitos bisa berubah menjadi logos atau ilmu pengetahuan.
Secara singkat, kata dia, dapat dikatakan bahwa segala pengetahuan yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah adalah mitos.
"Namun bukan berarti mitos itu tidak benar," tegasnya.
BACA JUGA: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Museum Arak di Karangasem Telah Digelar
Hanya saja, karena belum dibuktikan secara ilmiah maka hal itu disebut dengan mitos.
"Di balik suatu mitos ada suatu rahasia tersembunyi yang harus dipecahkan oleh penelitian ilmiah untuk dibuktikan kebenaran atau ketidakbenarannya," tegasnya.
Lalu untuk legenda, jelas ia, berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan terhadap seorang tokoh yang dianggap memiliki suatu pengaruh luas di masyarakat.
"Kalau fiksi itu adalah suatu imajinasi atau rekaan yang tidak sungguh-sungguh ada. Kebenarannya tidak membutuhkan pembuktian secara empirik," sebutnya.
Sedangkan fakta atau kenyataan adalah suatu peristiwa atau kejadian yang memang benar-benar ada dan dapat dibuktikan secara empirik.
"Ada juga yang mengatakan kenyataan adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ada atau mungkin ada di dalam realitas," imbuhnya.
Dosen Fakultas Sastra Unud ini, kemudian memberikan contoh mitos.
Semisal mitos adanya terowongan yang tembus dari Pura Goa Lawah ke Pura Besakih.
"Ada pula mitos tentang orang yang memiliki anak kembar buncing, maka anak itu harus dipisahkan atau salah satunya harus dibuang di kuburan," ucapnya.
Kemudian contoh legenda adalah legenda tentang Kebo Iwa sebagai orang kuat dan ahli dalam bidang arsitektur.
Legenda tentang Mpu Kuturan yang membangun konsep Kahyangan Tiga dan menyatukan sekte-sekte di Bali.
Serta masih banyak lagi kisah di masyarakat yang bisa diceritakan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-lenggang-di-pura-goa-lawah-klungkung.jpg)