Breaking News:

Berita Bali

Gubernur Bali Resmikan Kantor MDA Badung, Koster: Desa Adat Modal Utama Masyarakat Bali

Kali ini Gedung yang diresmikan yakni gedung MDA Kabupaten Badung yang terletak di Banjar Babakan, Kerobokan Kelod, Kuta Utara Badung  pada Rabu

Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
Gubernur I Wayan Koster (tengah) saat meresmikan gedung MDA Kabupaten Badung pada Rabu 1 September 2021 

Pasalnya desa adat itu punya wilayah, masyarakat atau krama, organisasi untuk mengelola atau pemerintahan, lembaga untuk ngurus legalisasinya, punya lembaga peradilan yang dinamai kerta desa kalau di Bali.

Desa adat juga punya kewenangan menyusun aturannya yakni awig-awig dan pararem.

"Sebenarnya desa adat itu negara di wilayah atau skala Desa. Tapi perkembangannya makin menurun di dalam urusan adat ini terutama di zaman orde baru," jelasnya.

Dijelaskan dalam visi Nangun Sat Kerti loka Bali yang dikeluarkan Gubernur Bali pihaknya mengatakan pertama yang diselesaikan adalah masalah adat di Bali

Baca juga: Oknum Polisi Pengedar Sabu di Badung Dituntut 15 Tahun Penjara, Ngurah Menara Mohon Keringanan

"Desa adat pertama yang saya urusin, karena ini adalah modal utama masyarakat Bali. Ini yang membuat bali bisa kuat dengan krama atau tatanannya," jelasnya.

Lebih lanjut Koster harus membantu dan memperdayakan masyarakat Bali khususnya yang ada di naungan desa adat dengan konkrit.

Sehingga dalam hal ini harus dirancang skema kebijakan yang harus betul-betul memperkuat adat yang ada di Bali.

"Makanya saya membuat peraturan daerah tentang desa adat. Saya susun sejak awal sebelum saya jadi Gubernur Bali. Jadi 2015 lalu sudah saya susun rancangan peraturan daerah tentang desa adat ini," bebernya.

Saat membentuk perda, banyak yang pesimis untuk disetujui. Karena penyusunan perda ini tidak bisa mengegolkan secara politik. Perda desa adat ini dibuat untuk menjaga kearifan lokal yang ada di Bali.

"Perda desa adat kita berlakukan 4 juni 2014 di pura samuan tiga yakni perda  nomor 4  tentang desa adat di Bali. Bahkan kini desa adat juga bisa dibantu dengan diberikan uang sebanyak Rp 300 juta per tahun.

"Semenjak saya jadi gubernur kan anggarannya naik dadi Rp 226 juta menjadi Rp 300 juta," tungkasnya. (*)

Artikel lainnya di Berita Badung

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved