Breaking News:

Serba Serbi

Leluhur Digantung di Tiing Petung, Kisah Jaratkaru dalam Epos Mahabharata

beredar kisah di masyarakat bahwa seseorang yang tidak memiliki keturunan, maka roh leluhurnya akan digantung di tiing (bambu) petung.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
http://suaratuhan.blogspot.com via Tribun Travel
ilustrasi - Leluhur Digantung di Tiing Petung, Kisah Jaratkaru dalam Epos Mahabharata 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menikah adalah salah satu kewajiban bagi umat Hindu, sesuai ajaran Catur Asrama yaitu Grhasta. Bukan tanpa maksud, ada makna baik yang terkandung di dalamnya.

Sebab dengan menikah dan meneruskan keturunan, apalagi sampai memiliki anak yang suputra adalah salah satu tujuan umat Hindu. Demi meneruskan garis keturunan agar tidak punah.

Sejak lama, beredar kisah di masyarakat bahwa seseorang yang tidak memiliki keturunan, maka roh leluhurnya akan digantung di tiing (bambu) petung.

Kisah ini masuk ke dalam mitos kisah Sang Jaratkaru di dalam Adi Parwa.

Baca juga: Mahabharata dan Kisahnya, Menggambarkan Kehidupan Sosial Budaya Hingga Filsafat Agama Hindu

Dewa Windhu Sancaya, Dosen Kajian Prosa dan Drama, Fakultas Ilmu Budaya Unud, mengisahkan bahwa Sang Jaratkaru dikenal sebagai orang yang sangat sakti. Hingga bisa berjalan-jalan ke surga dan neraka.

"Ketika tiba di neraka, ia (Jaratkaru) melihat banyak roh yang disiksa. Salah satunya roh ayahnya yang telah meninggal dunia," ujarnya kepada Tribun Bali, Kamis 9 September 2021.

Sang Jaratkaru heran, mengapa ayahnya bisa disiksa di neraka.

Bahkan dengan cara digantung di tiing (bambu) petung.

Ia pun bertanya alasannya, dan dijawab bahwa penyiksaan itu disebabkan oleh Jaratkaru sendiri.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved