Breaking News:

Berita Bali

Koster Keluarkan SE Pemanfaatan Produk Garam Tradisional,Bantu Petani Pasarkan Garam ke Pasar Modern

diharapkan produk garam lokal Bali dapat dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dipasarkan di seluruh wilayah Bali,

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Gubernur Bali Wayan Koster saat melihat proses pembuatan garam tradisional dengan menggunakan palungan atau kayu kelapa, di Desa Tejakula, Buleleng, Selasa (28/9/2021) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Menanggapi keluhan sejumlah petani garam lantaran tidak dapat memasarkan produknya ke pasar modern, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pemanfaatan Produk Garam Tradisional Lokal Bali.

Dengan adanya SE ini, diharapkan produk garam lokal Bali dapat dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dipasarkan di seluruh wilayah Bali, hingga diekspor.

SE ini diberlakukan oleh Koster pada Selasa (28/9/2021) bertepatan saat dirinya berkunjung ke salah satu tempat pembuatan garam lokal Bali di Desa/Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Dalam sambutannya, Koster menyebut SE ini dikeluarkan karena dirinya mendapat banyak laporan dari para petani garam, bahwa garam lokal Bali yang diolah secara tradisional dan memiliki cita rasa yang khas, tidak dapat dijual ke pasar modern.

Baca juga: Atlet Taekwondo Buleleng Sabet 19 Medali Emas pada Kejuaraan Indonesia Timur Terbuka 2021

Hal ini terjadi lantaran terbentur oleh Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 69 Tahun 1994 tentang pengadaan garam beryodium.

Sebab Keppres itu dibuat saat dahulu terdapat kasus penyakit gondok dan stunting, yang disebut-sebut terjadi akibat kurangnya yodium dalam kandungan garam. Sehingga Keppres itu diberlakukan secara nasional.

Selain itu Peraturan Menteri Perindustrian terkait penunjukan lembaga penerbitan SNI,  juga menjadi salah satu penyebab pasar modern tidak lagi memperdagangkan garam lokal bali  yang tidak memiliki label SNI. 

"Kalau garam lokal Bali kurang yodium, harusnya banyak masyarakat Bali yang mengalami gondok atau stunting.  Sejak turun-temurun garam lokal ini kita konsumsi. Jadi sangat tidak masuk akal kalau dibilang garam Bali kurang yodiumnya.

Saya sikapi ini. Ini tidak benar. Karena garam lokal kita digunakan oleh beberapa hotel dan chef. Cita rasanya khas, sampai diekspor ke mancanegara. Dikasih yodium malah jadi tidak enak. Jadi regulasi itu justru merugikan petani kita," jelasnya.

Koster menyebut ia akan melawan kebijakan tersebut dengan mengeluarkan SE  Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pemanfaatan Produk Garam Tradisional Lokal Bali.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved