Berita Bali

Mulai Menetes ke Kas Daerah, Penurunan Level PPKM di Bali Berdampak Positif ke Pendapatan Retribusi

Pembukaan sejumlah objek wisata seiring dengan status level 3 PPKM Provinsi Bali membuat kunjungan wisata mulai sedikit bergeliat.

Dok. PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dimasa pandemi Covid-19 pada periode bulan September 2021 telah layani sebanyak 234.939 penumpang serta 2.040 pesawat udara - Mulai Menetes ke Kas Daerah, Penurunan Level PPKM di Bali Berdampak Positif ke Pendapatan Retribusi 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pembukaan sejumlah objek wisata seiring dengan status level 3 PPKM Provinsi Bali membuat kunjungan wisata mulai sedikit bergeliat.

Pendapatan yang diperoleh dari objek wisata pun mulai meneteskan sedikit kontribusi berupa retribusi ke kas daerah setempat.

Pembukaan sejumlah objek wisata oleh Pemkab Gianyar, misalnya, diakui mulai menyumbangkan pemasukan bagi pemkab, kendati secara nominal jumlahnya memang masih sangat kecil.

Saat ini Pemkab Gianyar membuka sejumlah objek wisata yang dikelolanya seperti Pura Tirta Empul dan Gunung Kawi di Tampaksiring, Goa Gajah dan lain-lain.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Bali Sudah Dua Digit Setiap Hari, Pemprov Optimis Bisa Turun Menjadi PPKM Level 2

Disebutkan, pendapatan Pemkab Gianyar dari sejumlah objek yang dikelolanya baru sekitar Rp 2 juta pada hari-hari biasa.

Pemerintah pusat pun diharapkan segera membuka pariwisata internasional ke Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Anak Agung Gde Putrawan mengungkapkan, objek-objek wisata yang dikelola Pemkab Gianyar memang sudah dibuka.

"Objek wisata yang dikelola Pemerintah Gianyar sudah buka. Karena kita sudah mengakses aplikasi PeduliLindungi dan kita sudah mendapatkan QR code untuk masing-masing objek. Itu bisa dilihat di Tirta Empul, yang sudah mulai dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat. Pengunjung dibatasi 50 persen dari kapasitas, dan menggunakan aplikasi PeduliLindungi," ujarnya.

Berdasarkan catatan yang diperoleh Tribun Bali, Minggu 3 Oktober 2021, selama pariwisata internasional ditutup, terutama ketika pemberlakuan PPKM Level 4, pendapatan pemkab dari pariwisata hampir tidak ada. Sebab, objek wisata harus ditutup.

Bahkan sebelum pembatasan ini diberlakukan, pendapatan Gianyar dari industri pariwisata sangat jeblok.

Per Januari 2021 lalu, Dinas Pariwisata Gianyar mencatat, pendapatan Gianyar dari semua objek wisata yang dikelolanya hanya Rp 7 juta per hari.

Padahal saat situasi normal, rata-rata pendapatan yang masuk ke kas daerah Rp 100 juta per hari.

Kata Agung Putrawan, kunjungan setiap hari sudah ada.

Namun jumlahnya masih sedikit.

Karena itu, pendapatan yang diterima pemerintah masih kecil.

Ia menambahkan, wisatawan lebih banyak berkunjung saat hari libur, yakni Sabtu dan Minggu.

Pada hari-hari tersebut, pendapatan bisa mencapai Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Sementara di hari biasa, rata-rata hanya Rp 2 juta.

"Pendapatan kita rata-rata agak naik pada weekend. Beberapa kali, dari hasil monitoring kami, bisa sampai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta yang masuk ke pendapatan daerah dari retribusi objek wisata. Nah untuk hari biasa, catatan kita sangat berfluktuasi. Rata-rata pemasukan Rp 2 juta- Rp 1,7 juta lah,” jelas dia.

“Itu pun sudah dari semua objek wisata yang dikelola Pemkab. Yakni 6 DTW, seperti Tirta Empul, Goa Gajah, Gunung Kawi Tampaksiring, Gunung Kawi Sebatu, Yeh Pulu, Candi Tebing Tegalinggah. Yang mendominasi sementara masih Tirta Empul dan Goa Gajah, setelah itu baru Gunung Kawi," Agung Putrawan menambahkan.

Terkait informasi tentang rencana pembukaan pariwisata internasional untuk Bali, Agung Putrawan mengatakan, ia memang mendengarnya saat mendampingi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno ketika berkunjung ke Desa Batuan, Sukawati, Gianyar.

"Saat itu beliau berkata bahwa rencana ini masih dibawa ke rapat kabinet. Beliau sih berencana di bulan Oktober akan buka wisman. Akan tetapi tentunya beliau mewanti wanti dengan pernyataan beliau agar kasus Covid terkendali. Apabila sudah terkendali dan hasil rapat kabinet di pusat memutuskan dibuka, maka kita berharap bahkan sangat berharap, ya astungkara nanti di Oktober ini bisa dibuka," harapnya.

"Kita sesungguhnya lebih 2 tahun ini telah mempersiapkan diri. Industri atau usaha pariwisata di sini sesungguhnya sudah mempersiapkan diri menuju health tourism atau wisata sehat. Dari beberapa parameter atau hal-hal yang diwajibkan terkait dibukanya pariwisata ini, maka harus dimiliki mindset bahwa calon wisatawan akan memperhatikan kesehatan. Yang tadinya pariwisata itu cukup aman dan nyaman, tentu sekarang aman dan nyaman plus sehat," ujarnya.

Data hingga 2 Oktober 2021 menunjukkan bahwa kasus Covid-19 di Bali makin menurun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, Ketut Suarjaya mengakui jika dalam dua hari terakhir angka penyebaran Covid-19 di Pulau Dewata menurun.

Penurunan, kata dia, terjadi sejak PPKM level 3 berlaku untuk Bali pada 13 September 2021 lalu.

“Iya memang menurun ya. Kami yakin bahwa berikutnya Bali akan level 2,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu 3 Oktober 2021.

Suarjaya mengatakan, keberhasilan merupakan hasil dari kerjasama semua pihak, termasuk masyarakat Bali.

“Ini adalah kerjasama dari semua pihak, dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, TNI-Polri, Satgas, media, dan juga masyarakat,” katanya.

Baca juga: Keliling Malam Kejar Pelanggar, Satpol PP Kota Denpasar Patroli Jaga PPKM Level 3

Angin Surga

Kabar mengenai pembukaan pariwisata internasional untuk Bali pada bulan Oktober juga disambut dengan antusias oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bangli, I Ketut Mardjana, Minggu 3 Oktober 2021.

Menurut Mardjana, pihaknya selaku Ketua PHRI Bangli sangat paham tentang derita akibat pandemi.

Dampaknya tak hanya dirasakan oleh para pelaku industri pariwisata, namun juga oleh masyarakat sekitar objek wisata, baik mereka yang berperan sebagai pegawai di industri, hingga pemasok bahan-bahan pangan.

“Jadi dengan rencana pembukaan pariwisata untuk wisatawan asing pada bulan Oktober, tentu ini merupakan secercah harapan, bagaikan angin surga. Ini akan menjadi obat, selama ini betul-betul bebannya sangat luar biasa. Dengan dibukanya ini, tentu akan memberikan suatu dampak ekonomi kepada masyarakat,” ungkap Mardjana.

Kendati demikian, Mardjana menegaskan dibukanya pariwisata di bulan Oktober tentu tidak serta merta wisatawan asing akan datang.

Menurutnya, kedatangan wisatawan asing akan terjadi secara bertahap, yang diperkirakan mulai pada November.

“Tapi itu pun sudah sangat oke. Artinya sudah secara pelan-pelan mereka (wisaatwan asing) bisa membuktikan secara langsung bagaimana destinasi wisata di Bali ini yang sudah mulai terbuka,” ucapnya.

Salah-satu bukti, adanya SE Gubernur Bali 15/2021 pada pertengahan September lalu tentang pembukaan objek wisata langsung berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan ke Toya Devasya di Kintamani, Bangli.

“Dampak SE itu terasa sejak sepekan lalu,” kata Mardjana yang merupakan pemilik Toya Devasya.

Ia menyebutkan, sebelum pandemi tingkat kunjungan wisatawan ke Toya Devasya berkisar 800 hingga 1000 orang per hari.

Namun sejak PPKM diberlakukan, tingkat kunjungan wisatwan anjlok menjadi hanya 5 hingga 10 orang per hari.

“Nah sejak bulan September ini sudah meningkat. Awalnya 25 orang per hari, dan sekarang ini hari-hari biasa sudah mencapai di atas 50 orang. Sedangkan Sabtu-Minggu, rata-rata 200 orang per hari. Itu indikasi membaik,” ungkapnya.

Dikatakan pula, tak sedikit wisatawan yang berasal dari Jawa, bahkan Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi yang berkunjung ke Toya Devasya.

Baca juga: PPKM Dinilai Efektif Turunkan Kasus dan Hambat Laju Penyebaran Covid-19 di Luar Jawa Bali

Naik Signifikan

Sementara itu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali telah layani sebanyak 234.939 penumpang serta 2.040 pesawat udara selama September 2021.

Dibandingkan dengan periode bulan Agustus 2021 sebelumnya, capaian tersebut merupakan kenaikan cukup signifikan baik dalam pergerakan maupun pesawat udara yang mengangkut.

“Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai - Bali terdapat capaian positif pada periode bulan September 2021. Secara persentase naik jika dibandingkan periode bulan Agustus 2021 lalu. Terdapat kenaikan penumpang hingga 161 persen dan 90 persen pesawat udara. Rata-rata harian selama bulan Septermber yang dilayani sebanyak 7.831 penumpang," ujar General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Herry A.Y Sikado, dalam keterangannya, Minggu 3 Oktober 2021.

Bandara I Gusti Ngurah Rai terus berkomitmen dalam menerapkan protokol kesehatan dalam rangka membantu pemerintah mengantisipasi penyebaran Covid-19.

"Terhadap capaian ini, kami berkomitmen tetap memastikan protokol kesehatan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dan seluruh penumpang yang berangkat dipastikan memiliki hasil uji tes Covid-19 negatif. Melalui upaya tersebut telah mendapat pengakuan dari Safe Travel Barometer, di mana Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali termasuk dari 10 bandara se-Asia Tenggara memiliki protokol kesehatan terbaik,” imbuh Herry.

Adapun selama periode bulan September 2021 tiga maskapai pengangkut penumpang terbanyak yakni Citilink Indonesia 69.017 penumpang, Batik Air 61.989 penumpang dan 54.066 penumpang untuk Lion Air.(weg/zae/gil)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved