PON XX Papua
Bersaing Melawan Juara Olimpiade, Lifter Bali Ketut Ariana Raih Medali Perunggu Kelas 81 Kg
Medali emas nomor ini direbut juara tiga Olimpiade Tokyo 2020 Rahmat Erwin Abdullah dari Sumatera Selatan. Perak disambar lifter Jawa Timur Anwar.
TRIBUN-BALI.COM, JAYAPURA - Pelatih Angkat Besi Bali Ni Luh Sinta Darmariani mengatakan Ketut Ariana sudah maksimal mendapatkan medali perunggu kelas 81kg pada PON Papua 2021, Kamis 7 Oktober 2021.
Dalam lomba yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Cendrawasih, Kota Jayapura, itu Ketut Ariana mengangkat 137 kg untuk snatch dan 168 kg untuk clean and jerk sehingga total angkatan 305 kg.
Baca juga: Update PON, Tim Basket Putri Bali Cetak Sejarah Melaju ke Final Setelah Tekuk Sulsel
Baca juga: Oka Sulaksana Sumbang Medali Emas untuk Bali dan Akan Pensiun Setelah PON Papua
Medali emas nomor ini direbut juara tiga Olimpiade Tokyo 2020 Rahmat Erwin Abdullah dari Sumatera Selatan. Sedangkan medali perak disambar lifter Jawa Timur Anwar.
"Lifter Rahmat yang menyabet emas adalah atlet angkat besi peraih perunggu pada Olimpiade Tokyo," kata Sinta.
Sinta menyebut Ketut Ariana lolos Pra-PON ketika tampil dalam kelas 73 kg.
"Tetapi, jika di ajang resmi PON Ketut Ariana turun di kelas 73 kg, maka pesertanya hanya tiga atlet, dan hanya disediakan medali emas yang direbut Rizky Juniansyah (dari Banten)," kata Sinta.
Oleh sebab itu, kata Sinta, Ketut Ariana mengambil strategi dengan naik ke kelas 81 kg, sedangkan jika turun pada kelas 73 kg, maka dia otomatis harus diet ketat.
Sementara itu, lifter asal Banten Rizki Juniansyah memenangkan laga perebutan emas dan perak kelas 73kg angkat besi putra Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.
Peraih tiga emas di kelas 73 Kg, sekaligus memecahkan tiga rekor dunia junior pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 itu unggul dari dua rivalnya yakni Edi Kurniadi dari Kalimantan Timur dan Misbahul Munir yang mewakili atlet tuan rumah.
Tampil di Auditorium Universitas Cenderawasih, Kabupaten Jayapura, Kamis sore, Rizky berhak atas emas PON Papua setelah mengangkat total 343kg terdiri atas angkatan terbaik babak snatch 152kg dan clean and jerk 191kg.
Medali perak diraih oleh Edi Kurniawan yang mengumpulkan total angkatan 284kg dari babak snatch 127kg dan clean and jerk 157kg.
Sedangkan Misbahul Munir harus rela pulang tanpa medali sebab berada di peringkat terakhir dengan mengumpulkan total angkatan 283kg terdiri atas 128kg di babak snatch dan 283kg di babak clean and jerk.
"Lomba ini hanya memperebutkan dua medali sebab hanya diikuti tiga peserta," kata Sekretaris Panitia Pelaksana Angkat besi PON XX Papua Yohanes D Reda.
Rizki mengawali angkatan snatch 135kg, 150kg dan 152kg dengan kegagalan percobaan kedua.
Lifter kelahiran 17 Juni 2003 itu menaklukan dua kali angkatan di babak clean and jerk masing-masing 175kg dan 191kg. Namun tambahan bobot barbel seberat 200kg gagal diangkat Riski.
Sementara itu sang peraih perak mengalami dua kali kegagalan di angkatan snatch 127 kg dan clean and jerk 156 dan 157kg. (antara)
Berita lain dari arena PON Papua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lifter-bali-ketut-ariana.jpg)