Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kerjasama dengan Amazon Web Services, Diskominfos Tingkatkan Bali Smart Island dengan Layanan Cloud

Dengan cloud, Diskominfos dapat mengembangkan aplikasi-aplikasi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf kehidupan penduduk Bali

Tayang:
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Gusti Ngurah Puspa Udiyana saat jumpa pers virtual bersama Amazon Web Service, Kamis (7/10/2021) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Teknologi komputasi awan atau cloud computing adalah teknologi yang dikenal lekat dengan dunia bisnis.

Namun, nyatanya pemerintah juga bisa menggunakan cloud untuk meningkatkan efisiensi serta inovasi dalam menghadirkan layanan publik yang kian responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Salah satu contoh nyata implementasi teknologi cloud dalam pemerintahan, bisa dilihat pada Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, yang memilih Amazon Web Services (AWS) sebagai penyedia cloud.

Dengan cloud, Diskominfos dapat mengembangkan aplikasi-aplikasi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf kehidupan penduduk Bali.

Baca juga: Beri Air Minum ke Orang Tak Dikenal, Ibu Rumah Tangga di Bangli Malah Disekap dan Dirampok

Kepala Seksi Aplikasi Informatika Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Bali I Gusti Ngurah Puspa Udiyana, Kamis (7/10/2021) mengungkapkan, salah satu alasan pihaknya menggunakan layanan cloud adalah untuk mempercepat transformasi Pulau Dewata menjadi Smart Island, yang didukung pemanfaatan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.

“Ini sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan publik, dalam hal penyediaan layanan 24 jam,” jelasnya.

Ia menceritakan, awalnya pihak Diskominfos Bali sempat menggunakan pusat data Pemprov yang berbasis layanan on-premise.

Kendati demikian, beberapa kali sempat terjadi downtime system. Sehingga pihaknya mencoba mengkolaborasikan layanan on-premise dengan layanan Cloud dari AWS, untuk meningkatkan kapsitas infrastruktur pusat data Pemprov Bali.

Dikatakan Ngurah Udiyana, sejak efektifnya tim pengembangan SPBE bulan Maret 2020, hingga kini terdapat 29 layanan yang telah dikembangan dan telah diimplementasikan.

Ada sekitar 14 sistem yang menggunakan layanan cloud.

Diantaranya sistem single sign-on, sistem absensi berbasis pengenalan wajah, sistem monitoring oksigen faskes di Bali, Bali satu data, dan sebagainya.

“Sistem ini memiliki karakteristik yang tidak boleh down sama sekali. Sedangkan aplikasi yang tidak bersifat transaksional dan kritikal, termasuk backup tetap menggunakan layanan on-premise,” ucapnya.

Menurutnya pula, banyak hal yang bisa dilakukan dengan layanan cloud ini.

Salah satunya, pihak Diskominfos Bali bisa lebih fokus untuk mengembangkan berbagai layanan aplikasi. Sehingga ketika aplikasi itu sudah dikembangkan, implementasinya bisa lebih cepat.

Baca juga: 44 Guru di Bangli Ikuti Diklat Calon Kepala Sekolah

“Selain itu layanan cloud ini menggunakan metode pay as you go. Artinya, kita hanya membayar berdasarkan layanan yang kita gunakan.

Demikian pula, dengan layanan cloud kita bisa meningkatkan kapasitas infrastruktur dengan seketika.

Misalnya layanan absensi, sistem ini sebenarnya hanya digunakan pada satu waktu tertentu saja. Namun biasanya sekitar pukul 07.00 hingga 07.30 wita layanan ini menjadi lebih padat.

Kalau kita pakai on-premise, otomatis kita perlu menyediakan kapasitas yang besar all the time agar tidak macet.

Padahal hanya digunakan setengah jam saja. Kalau di cloud, yang kita bisa meningkatkan kapasitas pada jam-jam padat itu saja, sehingga resource kita bisa efisien,” jelasnya.

Ngurah Udiyana mengakui, dalam penggunaan layanan cloud awalnya pihak Diskominfos sempat memanfaatkan tiga penyedia layanan.

Sejatinya, jika dibandingkan secara umum, dari sisi pembiayaan relative sama. Namun alasan pihaknya lebih memilih layanan AWS, karena AWS menduduki peringkat tertinggi di lembaga layanan cloud.

Selain itu, berdasarkan uji coba layanan cloud, hanya tim AWS yang benar-benar men-support Diskominfos Bali, dengan memberikan layanan uji coba walaupun pada saat itu, diakui Ngurah Udiyana pihaknya belum ada anggaran.

“Tim AWS ini memberikan kita kebebasan menggunakan service apapun. Mulai dari layanan pengenalan wajah untuk sistem absensi, hingga layanan email. Jadi kita memang dibantu dari sisi support tim maupun dari sisi implementasi layanan,” ungkapnya.

Sementara penyedia layanan Cloud lain, imbuhnya, wajib ada komitmen. Adapula yang mengizinkan Diskominfos Bali untuk melakukan uji coba, namun dengan ruang lingkup terbatas.

“Sedangkan AWS tidak ada batasan. Kita bisa menggunakan service apapun. Sepanjang itu digunakan untuk layanan produktif, bukan untuk profit. Apalagi layanan ini untuk public. itulah yang membedakan, yang kita rasakan,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved