Jepang

PM Fumio Kishida Berjanji Pimpin Jepang Keluar dari Krisis Covid-19

Kasus harian baru-baru ini turun dan keadaan darurat yang lama diberlakukan telah dicabut bulan ini.

Editor: DionDBPutra
AFP/PHILIP FONG
Fumio Kishida menghadiri konferensi pers di Klub Koresponden Asing Jepang di Tokyo pada 13 September 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, TOKYO - Perdana Menteri Fumio Kishida mengatakan akan melakukan upaya terbaik untuk memimpin Jepang keluar dari krisis Covid-19, sambil melindungi wilayah dan rakyatnya di lingkungan keamanan yang semakin keras.

Kishida memimpin negara dengan perekonomian terbesar ketiga dunia sejak Senin 4 Oktober 2021, menggantikan Yoshihide Suga yang tidak lagi didukung karena melonjaknya infeksi Covid-19.

Baca juga: PM Jepang Fumio Kishida Menempuh Jalan Terjal Menuju Pemilihan Umum

Baca juga: Para Ahli Khawatirkan Kasus Covid-19 di Jepang Melonjak pada Musim Dingin

Kasus harian baru-baru ini turun dan keadaan darurat yang lama diberlakukan telah dicabut bulan ini.

"Saya bertekad untuk mengabdikan jiwa dan raga untuk mengatasi krisis nasional ini bersama rakyat, mengukir era baru, dan mewariskan kepada generasi berikutnya sebuah negara yang warganya berjiwa mulia," kata Kishida ketika menyampaikan pidato kebijakan pertama kepada parlemen pada Jumat 8 Oktober 2021.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida (tengah depan) pose bersama anggota kabinetnya di Tokyo 4 Oktober 2021.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida (tengah depan) pose bersama anggota kabinetnya di Tokyo 4 Oktober 2021. (AFP/YOSHIKAZU TSUNO / POOL)

Ujian awal yang besar baginya adalah memimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dalam pemilihan umum pada 31 Oktober mendatang.

Mantan menteri luar negeri berusia 64 tahun yang memiliki reputasi sebagai pembangun konsensus yang rendah hati itu mengatakan pemerintah akan segera menyusun paket stimulus untuk mendukung orang-orang yang terdampak pandemi dan mengambil langkah legislatif untuk mengamankan sumber daya medis.

Kishida tidak merinci ukuran paket stimulus dalam pidatonya, tetapi bulan lalu dia mengusulkan jumlah 30 triliun yen atau setara Rp 3.814 triliun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan dia berharap untuk mengompilasi anggaran tambahan untuk mendanai stimulus, segera setelah pemilu dan disetujui oleh parlemen pada akhir tahun.

Kishida menggarisbawahi perlunya mendukung mereka yang membutuhkan untuk memenangi dukungan publik. Dia menyerukan pembayaran tunai kepada perusahaan yang terkena dampak pandemi.

Dia juga berjanji untuk memberikan bantuan tunai kepada pekerja tidak tetap, keluarga dengan anak-anak, dan mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan karena pandemi.

Kishida menegaskan kembali tekadnya untuk mengatasi deflasi dan mengatakan dia akan melanjutkan dengan pelonggaran moneter yang berani, pengeluaran fiskal yang cepat, dan strategi untuk pertumbuhan.

"Kami akan melakukan pembelanjaan fiskal tanpa ragu-ragu untuk menanggapi krisis dan memastikan semua tindakan yang mungkin diambil," ujar dia.

Mengenai keamanan nasional dan urusan luar negeri, Kishida mengatakan dia akan melindungi perdamaian dan stabilitas Jepang.

"Dengan lingkungan keamanan di sekitar negara yang semakin keras, saya akan dengan tegas melindungi wilayah kita, perairan teritorial, ruang udara, dan kehidupan serta properti rakyat kita," kata dia kepada parlemen.

Jepang menghadapi pembangunan militer China yang cepat dan ekspansi maritim yang agresif, sebagai ancaman dari program nuklir dan rudal Korea Utara.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved