Serba serbi

Keseimbangan Alam Semesta, Pentingnya Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang Dalam Hindu Bali

Sudah sejak lama umat Hindu mengenal dan merayakan hari suci, dengan menghaturkan ritual yadnya serta bebantenan (upakara) di Bali.

ist/IG/doc pribadi @aiupuspa
Ilustrasi bagaimana manusia berdampingan dengan ciptaan Tuhan lainnya dan alam lingkungan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sudah sejak lama umat Hindu mengenal dan merayakan hari suci, dengan menghaturkan ritual yadnya serta bebantenan (upakara) di Bali.

Hal ini bukanlah tanpa alasan. Selain melestarikan warisan adat budaya yang adiluhung. 

Makna yang terkandung di dalam upacara dan upakara itu sangatlah mulia.

Contohnya dalam perayaan hari suci Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang. Hal ini berkaitan dengan menjalankan norma dan pedoman hidup, sesuai ajaran Tri Hita Karana.

Baca juga: Peruntungan Lahir Senin Kliwon Wariga, Hidup Senang dan Baik Sekali di Usia 50 - 60an

Tri Hita Karana, berasal dari tiga kata yang memiliki makna filosofis luar biasa. Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan, dan Karana artinya penyebab. Sehingga Tri Hita Karana adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. 

Tiga penyebab kebahagiaan di alam semesta ini, adalah Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Parhyangan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan Tuhan. Pawongan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan sesama manusia. Serta Palemahan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan alam semesta. 

Dengan terjaganya hubungan baik ini, maka tentunya akan tercapai pula kebahagiaan dan keseimbangan.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan, bahwa dalam perayaan hari-hari suci tersebut lah, ajaran Tri Hita Karana diimplementasikan. 

Baca juga: Peruntungan untuk Mereka yang Lahir Selasa Paing Watugunung, Berdasarkan Wariga dan Pal Sri Sedana

Implementasinya melalui bentuk upacara, susila, dan tattwa sebagai satu kesatuan. Sehingga upacara dilaksanakan atas dasar tattwa dan susila.

"Pelaksanaan upacara agama mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan," jelas I Nyoman Suarka, Koordinator Alih Aksara, Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama, Senin 11 Oktober 2021. 

Disebutkan bahwa upacara persembahan kepada Tuhan dengan segala manifestasi beliau merupakan perwujudan rasa bakti umat Hindu kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

"Sebab Tuhan adalah sumber segala yang ada, baik alam semesta maupun seluruh isinya," imbuh guru besar Unud ini. 

Sehingga dengan berbakti kepada Tuhan, melalui yadnya pada hari suci, maka dipercaya Tuhan akan melimpahkan anugerah-Nya kepada umat. Sehingga umat dapat hidup dengan selamat, sejahtera dan damai lahir batin. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved