Breaking News:

Berita Bali

Tumpek Wariga Penanda 25 Hari Mendatang Galungan, Ini Maknanya

25 hari sebelum Hari Raya Galungan atau di Bali disebut selae dina sebelum Galungan, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wariga

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali
Pelaksanaan ritual tumpek wariga dilakukan pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Kabupaen Tabanan, Bali, beberapa waktu lalu. 25 hari sebelum Hari Raya Galungan atau di Bali disebut selae dina sebelum Galungan, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wariga. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - 25 hari sebelum Hari Raya Galungan atau di Bali disebut selae dina sebelum Galungan, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wariga atau Tumpek Pengatag.

Tumpek Wariga ini juga bisa disebut dengan Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Panuduh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Pengatag.

Dirayakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada Saniscara Kliwon wuku Wariga yang jatuh tepat hari ini, Sabtu 16 Oktober 2021.

Perayaan Tumpek Wariga ini merupakan hari suci pemujaan kepada Dewa Sangkara atau Dewa penguasa kesuburan semua pepohonan dan tumbuhan.

Baca juga: Keseimbangan Alam Semesta, Pentingnya Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang Dalam Hindu Bali

Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut.

Wariga, saniscara kliwon, ngaran tumpek panuduh, puja kreti ring sang hyang sangkara, apan sira amredyaken sarwa tumuwuh, kayu-kayu kunang.

Ini artinya pada wuku Wariga, Sabtu Kliwon disebut Tumpek Panguduh, merupakan hari suci pemujaan Sang Hyang Sangkara, karena beliau adalah dewa penguasa kesuburan semua tumbuhan dan pepohonan. 

Pada saat ini masyarakat Hindu di Bali akan melaksanakan upacara untuk pepohonan dengan menggantung tipat taluh pada pepohonan dan juga banten.

Lebih lanjut untuk sesajennya disebutkan sebagai berikut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved