Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

Makepung Lampit Digelar di Sawah Desa Kaliakah Jembrana Setelah 2 Tahun Vakum Akibat Pandemi

Atraksi khas daerah Jembrana, Makepung Lampit atau betenan (di sawah), digelar di Subak Peh Kaja  Desa Kaliakah, Kecamatan Negara Minggu  17 Oktober

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Noviana Windri
ist
Makepung Lampit di Desa Kalilakah, Kecamatan Negara Minggu 17 Oktober 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA- Atraksi khas daerah Jembrana, Makepung Lampit atau betenan (di sawah), digelar di Subak Peh Kaja  Desa Kaliakah, Kecamatan Negara Minggu  17 Oktober 2021.

Tentu saja, hal ini membuat kebahagiaan tersendiri, karena selama nyaris dua tahun tradisi ini susah untuk digelar.

Maklum saja, masa pandemi membuat susahnya untuk dilaksanakan.

Penggiat Makepung Lampit, Nengah Tangkas mengatakan, bahwa tradisi makepung lampit sudah diwariskan turun temurun oleh tetua di desanya.

Semenjak kecil, dia sudah melakoni makepung lampit.

Baca juga: 31 Kasus Baru Covid-19 di Jembrana, Terbanyak Selama Pandemi di Bumi Makepung

Baca juga: KISAH Dewa Ayu Kade, Siswi SMP di Jembrana yang Jadi Buruh Serabutan, Sekali Kerja Dapat Rp20 Ribu

Baca juga: Kasus Kekerasan Anak di Jembrana Meningkat, Hakim Asih: Pola Asuh dan Perhatian Ortu Sangat Penting

Dimana cikal bakal adanya makepung lampit, berawal ketika musim turun atau tanam di sawah tiba.

Untuk keperluan mengolah sawah, para petani di Desa Kaliakah, saling kedeng (menarik kerbau) bergotong royong dalam membajak (nenggala) sawahnya, hingga proses melampirkan atau meratakan sawah.

“Diproses melasah atau ngelampit inilah,  dilakukan berbarengan. Karena ramainya pemilik kerbau terlibat di sawah, mereka  kemudian saling adu cepat dalam  menyelesaikan tanah garapan,” ungkapnya.  

Makepung Lampit di Desa Kalilakah, Kecamatan Negara Minggu 17 Oktober 2021.
Makepung Lampit di Desa Kalilakah, Kecamatan Negara Minggu 17 Oktober 2021. (ist)

Dijelaskannya, bahwa “Ngelampit” mengunakan sepasang kerbau dan seperangkat lampit, mereka saling berlomba  menyelesaikan tanah biar nantinya bisa ditanami padi.

Bahkan, dalam proses pembajakan tidak hanya petani di desanya saja.

Bahkan sampai keluar, misalnya di Subak Biluh Poh, Mendoyo, termasuk di subak Sangkar Agung, Jembrana.

“Pokoknya saling  bergantian, dalam proses membajak hingga meratakan atau melampirkan,” jelasnya.

Menurut dia, bahwa di desanya kini masih tersisa sekitar 10 KK pengiat makepung lampit.

Baca juga: Jelang Liga 3 Bali 2021, Bupati Jembrana Nengah Tamba Cek Kesiapan Stadion Pecangakan

Baca juga: Bupati Jembrana Nengah Tamba Kampanyekan Stop Kekerasan Anak

Seiring waktu memang jumlahnya  sudah menurun. Usai ngelampit kemudian   berbarengan pula mereka akan mendapat upah yang bukan uang.

Melainkan, makanan yang disediakan pemilik sawah.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved