Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Transaksi Kripto di Indonesia Capai Rp370 Triliun, Kota Denpasar Kini Miliki Blockchain Center

Kota Denpasar kini resmi memiliki Blockchain Center yang berlokasi di Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Karsiani Putri
Istimewa/ Dok. Bekraf Denpasar
Peluncuran Bali Blockchain Center yang berlokasi di Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Kota Denpasar kini resmi memiliki Blockchain Center yang berlokasi di Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar.

Blockchain Center ini akan menjadi wadah untuk pengembangan ekosistem Blockchain di Kota Denpasar.

Apalagi saat ini trend investasi dan adaptasi aset kripto di dunia termasuk di Indonesia sudah semakin marak.

Selain itu, Badan Kreatif (Bekraf) Kota Denpasar yang bekerjasama dengan Kepeng.io juga melakukan peluncuran versi beta dari Baliola.com. 

Ketua Pelaksana Harian Bekraf Kota Denpasar, I Putu Yuliartha mengatakan, merujuk data Kementerian Perdagangan RI, hingga bulan Mei 2021 ini tercatat jumlah investor kripto mencapai 6,5 juta.

Baca juga: Ciptakan Iklim Ramah Investasi di Bali, DPMPTSP Luncurkan OSS dan E-Perizinan

Baca juga: Road to BJB YEZ Hadir di Bali, Kompetisi Bisnis Berhadiah Investasi untuk Modal Usaha

Adapun total transaksi yang terjadi di Indonesia sebesar Rp370 triliun. 

“Peningkatan minat investor terhadap aset kripto di Indonesia itu perlu dibarengi gerakan literasi dan edukasi agar masyarakat memahami apa dan bagaimana sesungguhnya aset kripto tersebut. Berkaitan dengan itulah Bekraf Denpasar bekerjasama dengan Kepeng.io meluncurkan Bali Blockchain Center,” kata Yuliartha, Rabu 20 Oktober 2021.  

Ia menambahkan, lewat Bali Blockchain Center ini nantinya akan memberi literasi kepada masyarakat untuk memahami teknologi crypto-currencies dan blockchain sehingga dapat mengembangkan diri di dalamnya secara benar dan efektif. 

“Karena merupakan teknologi baru yang memerlukan pemahaman dan sejumlah referensi teknologi terkini, sasaran utama pendirian Bali Blockchain Center adalah kalangan mahasiswa dan masyarakat peminat aset kripto di Kota Denpasar,” kata Yuliartha. 

Baca juga: Sering Merasa Lelah dan Lesu? Bisa Saja Asam Lambung Anda Adalah Penyebabnya

Baca juga: PTM Mulai Diberlakukan, Kenali Jenis Masker Terbaik Bagi Anak Ketika Menjalani PTM 

Baca juga: Ketahui 4 Pertolongan Pertama Dalam Menangani Cedera Olahraga Ringan

Dalam jangka panjang, pendirian Bali Blockchain Center ini diarahkan untuk menjadikan Kota Denpasar sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi blockchain dan terkoneksi dengan dunia.

“Mungkin terkesan muluk, tetapi di tengah kemajuan teknologi informasi dan teknologi finansial saat ini, keinginan tersebut bukan hal yang tak mungkin diwujudkan,” katanya optimis. 

Apalagi saat ini di Denpasar sudah ada marketplace NFT (Non-Fungible Token) yakni Baliola.com.

Lewat situs tersebut akan menjadi marketplace untuk penjualan produk kreatif seniman Denpasar baik digital maupun non digital dalam bentuk NFT.

“Ini merupakan proyek pertama dari Kepeng.io yakni aset digital (cryptocurrency) berbasis teknologi blockchain yang sedang diinkubasi oleh Bekraf Denpasar,” katanya. 

Sementara itu CEO Kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta mengatakan bahwa peluncuran versi beta dari Baliola merupakan momentum terbukanya wahana bagi seniman dan pegiat NFT untuk melakukan proses minting karya kreatif menjadi NFT.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved