Ngopi Santai
Kesetrum Vibrasi Energi Pak Kyai
Apakah yang dimaksud dengan pancaran itu adalah aura? Vibrasi, radiasi atau resonansi energi? Ataukah apa lagi?
Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
Seseorang dengan kualitas kesadaran yang tinggi (higher level of consciousness) menjadi saluran bagi terpancarnya cahaya keilahian (divinity).
Demikian kira-kira yang diungkapkan oleh Prof. David R. Hawkins dalam salah-satu bukunya.
Kalau tingkat kesadaran yang tinggi mencerminkan kesungguhan dalam menunaikan ajaran spiritual, maka ungkapan Hawkins itu bisa dikatakan dengan kalimat lain: kesalehan memancarkan cahaya keilahian.
Apakah yang dimaksud dengan pancaran itu adalah aura? Vibrasi, radiasi atau resonansi energi? Ataukah apa lagi?
Terserah orang-orang memberi nama apa, yang bisa berbeda-beda. Namun, dalam studi kesadaran, apa yang disebut sebagai aura, vibrasi, resonansi dan radiasi pada dasarnya memiliki subtansi yang sama.
Baca juga: Kemenjadian, Menyingkirkan Duri di Jalan dan Memberi Minum Anjing Kehausan
Di kalangan peminat studi kesadaran (consciousness) dan spiritualitas, nama Prof. David R. Hawkins tidak asing lagi.
Hawkins memiliki latar belakang yang unik. Ia berangkat sebagai seorang psikiater, dokter ahli kejiwaan.
Namun, Hawkins kemudian masuk lebih jauh ke dalam urusan kejiwaan dengan menginvestigasi isu-isu mengenai spiritualitas, sehingga dia dikenal luas pula sebagai periset kesadaran, pengajar tentang spiritualitas bahkan akhirnya seorang mistikus atau sufi.
Sumbangan terpenting Hawkins adalah berupa wawasan dan metode baru dalam mengantarkan orang untuk memahami kesadaran (consciousness) secara melintas-batas, universal, dan melampaui sekat-sekat agama.
Karena hasil kajiannya yang terukur dan akademik tentang kesadaran seperti yang ditunjukkan dalam Peta Kesadaran (Map of Consciousness/MoC) dan Level Kesadaran (Level of Consciousness/LoC), maka diklaim bahwa wawasan dan metode menuju kesadaran yang ditawarkan Hawkins ini bebas dogma atau non-dogmatis.
***
Nah, saya ingin menceritakan satu kejadian yang saya alami hampir tiga tahun lalu. Sebab, jangan-jangan saya kala itu sedang mengalami “siraman cahaya divinitas (divinity)” dalam kejadian itu.
Saya masih ingat, saat itu awal tahun 2019, saya bertemu dengan seseorang, yang di kemudian hari cukup memberi pengaruh pada arah perjalanan kehidupan saya.
Orang itu telah lama diceritakan oleh ustad yang mengajari saya mengaji. Tidak cuma 1-2 kali ustad menceritakan tentang orang itu. Beberapa kali diceritakannya tentang orang itu selama saya ngaji hampir 1,5 tahun pada ustad.
Nah, entah mengapa tiba-tiba di akhir Januari 2019, saya mendesak ustad pengajar ngaji saya itu, dan bilang kepadanya: "ustad, saya ingin sekali bertemu dengan orang yang ustad bolak-balik ceritakan pada saya itu. Tolong diusahakan bisa ya kali ini, ustad."
Saya memang selipkan kata “diusahakan” untuk sedikit mendesak, karena sebelumnya ustad sempat beberapa kali bilang “pak, nanti suatu waktu akan saya ajak bertemu beliau”, tetapi cuma bilang tinggal bilang. Tidak pernah ada realisasi.
Ternyata, orang yang dimaksud ustad itu adalah gurunya sendiri.
[Belakangan saya menyimpulkan bahwa ustad menunda-nunda mengajak saya bertemu dengan orang itu, bisa jadi karena ustad khawatir saya belum siap dengan pertemuan itu, karena kemungkinan ada pesan-pesan kepada saya untuk tirakat dari orang itu]
Baca juga: Dunia dan Kehidupanmu Berubah Mengikuti Hatimu, Bukan Karena Kerja Kerasmu
Akhirnya kami (saya dan ustad) tiba di rumah orang itu pada awal Februari 2019.
Kami masuk ke ruang tamunya yang tidak seberapa lebar, namun terlihat cukup bersih. Ruang tamu tanpa meja kursi, sehingga kami duduk bersila di bawah.
Tikar “jepang” yang teranyam rapi dan terasa halus, sudah tergelar di ruang tamu yang berlantai keramik itu.
Tatkala melihat orang itu muncul dari balik tirai pemisah ruang tamu dan ruang dalam untuk menemui kami, entah mengapa tiba-tiba perasaan saya seperti agak bergetar.
Campur-baur jadi satu antara terkesima dan perasaan lega ketika saya memandang wajahnya. Semua itu mencuat spontan.
Beruntung saya masih bisa mengingat-ingat dan menuliskannya saat ini. Padahal, waktu itu kesadaran saya seperti “tersihir”. Padahal juga, waktu itu beliau belum bicara apapun, namun saya sudah seperti tercekat.
Ustad pun baru memulai membuka pembicaraan. Termasuk memperkenalkan siapa saya kepada orang itu, yang tatkala baru muncul ke ruang tamu langsung disambar telapak tangannya oleh ustad untuk dicium agak lama.
Di kemudian hari, saya menyapa orang itu dengan panggilan "pak kyai".
Saat itulah “suatu pengalaman” menyelimuti saya. Ketika baru memulai bicara, tiba-tiba saya merasa seperti “terpulihkan”, terasa ada sebagian himpitan di dada saya yang seperti tiba-tiba terlepas, jadi plong. Batin saya yang menggelegak sebelum perjumpaan itu pun mulai mereda, geloranya seakan-akan terserap tapi entah kemana. Akhirnya, mata saya pun berkaca-kaca.
Padahal ya itu tadi, orang itu belum bicara apa-apa. Beliau baru mendengarkan saja kami bicara, dan sesekali ia tampak seperti mengangguk pelan.
Apakah kejadian pertemuan yang saya alami dengan pak kyai itu bisa menerangkan tentang “kesalehan memancarkan cahaya keilahian” seperti yang diungkapkan oleh Hawkins di atas?
Atau, mungkinkah kejadian yang saya alami terhadap gurunya ustad itu adalah suatu “penyelenggaraan ilahi” (providentia dei) yang istimewa, sehingga peristiwa di awal pertemuan itu menjadi seperti “momen sakral” yang melegakan batin ?
Memang telah lama saya berdoa untuk dipertemukan dengan guru yang bisa membimbing saya.
"Ini kah guru yang saya cari-cari dan kerap saya mohonkan kehadirannya dalam doa?" demikian berulang kali mencuat pertanyaan dalam batin saya setelah pertemuan itu.
***
David R. Hawkins mengungkapkan, kesadaran memuat energi. Semakin tinggi level kesadaran seseorang, semakin besar kekuatan energi yang terpancar darinya.
Disebutkan juga, energi bervibrasi, dan karena itu memiliki frekuensi.
Dalam neurosains dikenal level-level gelombang otak (brain wave) manusia antara lain beta, alfa, theta, dan delta. Masing-masing memiliki rentang frekuensi berbeda, dan bisa jadi indikator tentang situasi psikis seseorang.
Nah, apakah saat itu vibrasi energi kesadaran pak kyai sedang nyetrum ke saya karena ada keselarasan frekuensi sebagaimana ungkapan dalam bahasa Jawa tumbu oleh tutup (wadah yang menemukan tutup pasangannya dengan klop, red)?
Iya, saya meyakini itu.
Sebab, setelah pertemuan pertama itu, setiap kali saya bertemu beliau di kesempatan-kesempatan berikutnya, perasaan lega selalu saya alami. Bahkan, baru melihat kehadirannya dari jarak agak jauh, perasaan saya sudah gembira. Seperti anak kecil yang ditilap ibunya ke pasar, dan gembira dengan polosnya ketika kemudian melihat ibunya pulang ke rumah. Atau, seperti daftar soal ujian yang menemukan kunci jawabannya.
Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi
Pernahkah anda merasakan ketika ada seseorang masuk ke sebuah ruang pertemuan, kemudian suasana seperti tiba-tiba terasa tenang dan lega ?
Sebaliknya, pernahkah juga anda menjumpai keadaan tatkala ada seseorang masuk ke suatu tempat acara, dan kehadirannya justru membawa aura dalam ruangan tiba-tiba seperti diliputi rasa tegang, kaku, sebal, dan mood negatif lainnya?
Bagaimana pendapat(an) Anda?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/vibrasi-energi.jpg)