Berita Karangasem

Komunitas MPIG Dibentuk, Warga Amed Karangasem Berbondong-bondong Ingin Jadi Petani Garam

Minat warga kembali menjadi petani garam setelah dibentuk MPIG. Mengingat hasil produksi petani garam dipasarkan ke luar Bali dan hotel  sekitar

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa/Pemprov Bali
Gubernur Koster saat kunjungan kerja ke sentra produksi garam Amed, Desa Purwakerthi, Kabupaten Karangasem pada Minggu 17 Oktober 2021 pagi. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Warga Amed, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem yang memiliki keinginan  menjadi petani garam meningkat di tengah pandemi.

Hal itu disampaikan Ketua Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geogerafis (MPIG) Garam Bali, Nengah Suanda.

Minat warga kembali menjadi petani garam setelah dibentuk MPIG. Mengingat hasil produksi petani garam dipasarkan ke luar Bali dan hotel  sekitar Karangasem. Seperti di Jakarta, Tengerang, Bandung.

Ditambah  sebagian besar masyarakat tak memiliki penghasilan akibat pandemi.

Baca juga: Tinjau Petani Garam di Amed, Koster Harapkan Garam Bali Bisa Dikonsumsi Lebih Masif di Tingkat Lokal

"Di tengah pandemi seperti saat ini banyak warga yang ingin kembali menjadi petani garam.

Mereka ke MPIG memohon disediakan lahan agar bisa bertani garam. MPIG belum bisa memfasilitasi dikarenakan kondisi pasar belum stabil,"kata I Nengah Suanda, Senin (25/10/ 2021) siang.

Ditambahkan, selain karena pandemi ada faktor - faktor lain yang melatarbelakangi warga kembali menjadi petani garam. Satu diantaranya karena warisan leluhur.

Sebagian warga tak ingin warisan leluhurnya hilang. Apalagi garam di Amed sudah ada sejak dulu.

Faktor lain karena hasil penjualan garam sudah meningkat setelah dibentuk kelompok MPIG.

Sejak 2015 harga garam amed mulai naik di pasaran. Produksi dan kualitas meningkat.

Per musim MPIG mampu menghasilkan ratusan kilo garam, dan melebihi permintaan. Penjualan terus ditingkatkan.

"Saat ini jumlah petani garam yang masuk MPIG sekitar 24 orang, dan sudah beberapa kali alami pergantian. Anggota yang sudah tua diganti dengan yang muda.

Untuk penambahan anggota baru belum ada rencana. Nanti kalau pasaran sudah membaik, pasti ditambah lagi,"janji Suanda.

Untuk diketahui, MPIG terus berupaya menghidupkan  kembali aktivitas bertani garam. Mengajak warga untuk melestarikan bertani garam.

Ditambah, ada beberapa warga yang ingin kembali menjadi petani garam tapi kendala lahan dan peralatan. MPIG sudah mengusulkan ke Kementerian.

Baca juga: Pemerintah Akan Bangun Pelabuhan Penumpang di Amed Karangasem

Data yang dihimpun Tribun Bali di lapangan, lahan pertanian garam yang terkikis karena pariwisata setiap tahunnya meningkat. Seperti di Purwakerti lahan pertanian garam awalnya sekitar 965 are, kini tersisa sekitar 100 - 150 are.

Terkikisnya lahan pertanian garam karena maraknya perhotelan.

Tidak hanya di Purwakerti lahan pertanian garam di beberapa lokasi mulai terkikis. Seperti lahan pertanian di Tianyar Barat, Kecamatan Kubu. Lahan di Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu.  Desa Tianyar,  Kecamatan Kubu. Desa Labasari Kecamatan Abang, dan beberapa lahan di Manggis.(*)

Artikel lainnya di Berita Karangasem

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved