Human Interest
Lilis Manfaatkan Kelor Jadi Teh dan Obat-obatan, Keuntungan Bersih hingga Rp10 Juta Per Bulan
Memiliki segudang khasiat, membuat Lilis Hidayati seorang ibu rumah tangga asal Banyuwangi mengolah tanaman kelor menjadi beberapa produk.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Memiliki segudang khasiat, membuat Lilis Hidayati seorang ibu rumah tangga asal Banyuwangi mengolah tanaman kelor menjadi beberapa produk.
Usaha pengolahan kelor nya tersebut diberi nama CV. Kelorwangi Berkah Melimpah.
Produk-produk yang dihasilkan yakni berupa, teh jahe kelor, teh melati kelor, teh original kelor, kapsul kelor untuk pelancar asi juga mult khasiat dan powder atau bubuk kelor.
Ketika ditemui, Lilis mulai menceritakan bagaimana usaha produksi dari kelornya berdiri.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Liver hingga Otak, Ini Segudang Manfaat dari Daun Kelor
"Usaha produksi kelor dari tahun 2017. Izinnya mulai dari 2018, karena izin saya BPOM jadi saya sesuaikan standarnya misalnya semua alat-alat dari stainless steel bukan dari besi, juga pada ruang pengering harus didalam karena harus ada sterilisasi," kata perempuan lulusan S1 Fakultas Perikanan tersebut.
Untuk teh daun kelor all varian dibanderol dengan harga Rp15 ribu, obat-obatan kapsul kelor Rp45 ribu perbotol, serbuk kelor sejumlah 200 gram dihargai dengan Rp45 ribu.
Khasiat kelor sendiri sangat banyak. Salah satunya untuk memperlancar peredaran darah, detoksifikasi tubuh, meningkatkan imun dan juga untuk menutrisi.
Karena kelor memiliki asam amino yang baik untuk nutrisi. Jadi contohnya untuk kasus busung lapar daun kelor sangat bagus untuk menutrisi.
Baca juga: Kudapan Enak Bagi Penderita Diabetes, Mahasiswa UM Surabaya Buat Puding dari Daun Kelor
Selama memproduksi olahan kelor ini, masyarakat tampak antusias untuk membeli olahan kelor milik Lilis.
"Alhamdulillah antusias masyarakat tinggi. Terlebih saat Covid-19 kemarin, banyak masyarakat yang membeli teh kelor jahe. Jadi permintaan kelor jahe lumayan banyak."
"Teh kelor rata-rata terjual 400 box sebulan, kapsulnya bisa 200 botol sebulan. Target 1.000 tapi karena ppkm masih merangkak di antara 500 sampai 600."
"Ekspor belum kalau keluar daerah sudah seperti Bali, biasanya SPA yang minta tepung kelor. Kemudian Riau, Malang, Surabaya, Bogor dan Jakarta," paparnya.
Untuk memproduksi olahan kelor sendiri ia dibantu dengan 4 orang karyawan. Dalam sehari ia bisa memproduksi teh hingga 200 kotak.
Pandemi Covid-19 menurutnya tidak terlalu berdampak, karena teh jahe kelor banyak diminati oleh masyarakat. Sedangkan untuk bahan bakunya, Lilis bermitra dengan petani kelor di Banyuwangi.
"Kebetulan Banyuwangi habitatnya kelor. Kita bisa membutuhkan 200 sampai 500 pohon kelor. Sementara kalau keuntungan bersih sebulan sekitar Rp10 juta semenjak pandemi. Sebelum pandemi sampai Rp20 juta," tutupnya. (*)
Artikel lainnya di Human Interest Story
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/olahan-kelor-produksi-lilis.jpg)