Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

WASPADA Musim Peralihan! Anda Wajib Tahu Fenomena La Nina hingga Ancaman Bencana Hidrometeorologi

WASPADA Musim Peralihan! Anda Wajib Tahu Fenomena La Nina hingga Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Editor: Widyartha Suryawan
(BMKG)
Tangkapan layar anomali Suhu Muka Laut (SML) dasarian II Oktober 2021. 

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa hari terakhir, wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan sedang mengalami periode transisi atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Periode peralihan musim ini perlu diwaspadai, terutama terkait fenomena cuaca ekstrem yang sering muncul, seperti hujan lebat, angin puting beliung, angin kencang.

Meskipun periodenya singkat, peralihan musim sering memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memantau perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ke arah Indonesia.

BMKG pun meminta agar peringatan dini tentang kemunculan La Nina tidak disepelekan begitu saja.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, peringatan dini yang disampaikan bukanlah untuk menakut-nakuti masyarakat.

Hal itu disampaikan Dwikorita saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) untuk mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi La Nina dan potensi bencana hidrometeorologi, Jumat (29/10/2021) lalu.

"Peringatan dini yang dikeluarkan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan jeda waktu yang bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mengingat fenomena cuaca dan iklim bisa diprakirakan," ujar Dwikorita, dilansir laman BMKG.

Baca juga: Fenomena La Nina Diprediksi Terjadi Pada Akhir 2021, Berikut Ini Dampaknya ke Petani dan Nelayan

Sebelumnya, BMKG telah menyampaikan Peringatan Dini untuk waspada terhadap datangnya La-Nina menjelang akhir tahun ini.

Berdasarkan monitoring terhadap perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61 pada Dasarian I Oktober 2021.

Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang menjadi La Nina yang diprakirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah - sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

Ancaman La Nina berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Dwikorita meminta Pemerintah Daerah serius menanggapi peringatan dini La Nina yang dikeluarkan BMKG guna meminimalisir dampak dan kerugian yang lebih besar.

"Mohon kepada daerah untuk tidak menyepelekan peringatan dini La Nina ini. Jangan sampai melupakan upaya mitigasi dan fokus pada penanggulangan pasca kejadian. Mitigasi yang komprehensif akan bisa menekan jumlah kerugian dan korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi," ungkap Dwikorita.

Dwikorita menyebut, statistik kebencanaan saat ini didominasi oleh peristiwa-peristiwa bencana yang terkait dengan cuaca/iklim.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved