Serba Serbi
Pantangan untuk Seniman Pembuat Topeng Sesuhunan, Berikut Kisahnya
Dengan nama usaha, I Wayan Muka Mask Product bergerak di bidang kerajinan kayu dari topeng tradisi dan topeng modern
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tidak hanya penekun spiritual atau orang suci saja, yang memiliki banyak pantangan.
Namun yang berkaitan dengan hal spiritual, sakral, dan suci pun memiliki pantangan dan tantangan tersendiri. Seperti yang dituturkan I Komang Mega, salah satu seniman pembuat topeng.
Pria asal Mas, Ubud, Gianyar, Bali ini menuturkan mewarisi jiwa seni dari sang ayah I Wayan Muka.
Dengan nama usaha, I Wayan Muka Mask Product bergerak di bidang kerajinan kayu dari topeng tradisi dan topeng modern.
Baca juga: Topeng Arsa Wijaya Diminati Pasar Singapura hingga Amerika
Tak hanya pandai membuat topeng modern, untuk dipasarkan hingga kancah pasar internasional, ia juga pandai membuat topeng tradisional, khususnya topeng untuk wajah sesuhunan atau bhatara-bhatari di Bali.
"Kalau untuk pembuatan sesuhunan ada upacaranya khusus, yang dilakukan oleh pandeta, kalau kayu pule biasanya yang kami dapat langsung dari pengepul kayu," jelasnya kepada Tribun Bali, Senin 8 November 2021.
Pihaknya mendapatkan kayu pule ini, kebanyakan di kuburan dan di pura-pura karena banyak kayu pule yang berumur puluhan tahun di sana.
"Sedangkan topeng dari bahan kayu waru kami dapatkan dari daerah Karangasem dan Tabanan," sebutnya.
Sudah menjadi rahasia umum, dalam pembuatan topeng atau bagian dari sebuah sesuhunan bhatara-bhatari tidaklah boleh sembarangan.
Segalanya harus disesuaikan dengan aturan, dan tetap menjaga kesucian. Serta banyak pantangan yang harus dijalani.
Hal itu diakui Komang Mega.
"Pembuatan topeng supaya taksunya keluar, maka pembuat topeng tidak boleh memakan daging sapi," sebutnya.
Sejatinya hal ini pun dilakukan banyak orang suci, seperti sulinggih termasuk pemangku dan balian. Begitu juga seorang pembuat topeng sesuhunan.
"Ada yang saat pembuatan topeng tidak memakan daging sapi, tetapi ada yang konsisten tidak memakannya walau sedang tidak membuat topeng," jelasnya.
Baca juga: Angkat Cerita ‘Menget’, Sekeha Topeng Prembon Natar Ayun Siap Unjuk Kebolehan di Ajang PKB XLIII