Berita Bali
Sudah Dibina dan Dipulangkan Tapi Anak-anak Tetap Jualan Tisu di Jalan, Kadinsos Bali Angkat Bicara
"Disini tugas kami mengkoordinasikan Kabupaten atau Kota bersinergi untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak yang terjaring
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Keberadaan anak-anak penjual tissu yang kembali berjualan setelah diberi pembinaan membuat Dinas Provinsi Bali angkat bicara.
Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra, ketika ditemui mengatakan, pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan Dinsos baik di Kabupaten atau Kota untuk bersinergi lakukan pembinaan.
"Disini tugas kami mengkoordinasikan Kabupaten atau Kota bersinergi untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak yang terjaring.
Pembinaan sampai dua hari untuk anak-anak dan sudah diklasifikasikan. Dan kebanyakan mereka dari Karangasem," katanya pada, Senin (8 November 2021).
Baca juga: Berjumlah Sekitar 400 Orang, Anak-anak Penjual Tisu Tersebar di Seluruh Kabupaten/Kota se-Bali
Pembinaan tersebut diantaranya memberikan pemahaman terkait aspek moralitas, dan merubah mindset agar tidak menggelandang lagi.
Dan jika yang dilakukan pembinaan anak-anak, nantinya akan ada pembinaan untuk pemenuhan hak anak.
Dewa mengatakan, dalam hal ini, tak jarang orangtua juga ikut terjaring.
Menurutnya mindset masyarakat harus diubah seperti jangan memberikan mereka uang agar mereka jera dan tidak berjualan pada tempat yang tidak semestinya.
"Urusan kesadaran, dari awal sudah tahu anak sekolah kenapa dieksploitasi? Mindset masyarakat juga harus dirubah karena belum tentu anak-anak tersebut tidak mampu," terangnya.
Menurutnya itu merupakan modus baru dimana anak-anak bekerja di jalan.
Untuk mekanismenya, Dewa menjelaskan setelah ditertibkan, anak-anak tersebut dibina dan akan dibawa ke daerah asalnya untuk disekolahkan.
Apabila orangtuanya tidak mampu bisa dimasukkan ke Yayasan atau Panti anak. Atau partisipasi sosial yang akan mengajaknya dan siap menanggung anak tersebut.
Untuk jumlah anak-anak yang berjualan tisu setiap tahunnya, fluktuatif.
Sementara pada Kabupaten Karangasem, dimana yang merupakan kebanyakan daerah asal mereka, sudah diberikan sosialisasi terkait anak-anak yang dieksploitasi untuk berjualan.
Baca juga: Anak-Anak Penjual Tisu di Lampu Merah Denpasar Kian Bertambah, Cok Ace: Akan Jadi Apa Mereka Nanti
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-sosial-provinsi-bali-i-dewa-gede-mahendra-putranhgfssg.jpg)