Ngopi Santai
Apakah Mbah Google dan YouTube Juga Layak Disebut Guru dan Diucapi 'Selamat Hari Guru'?
Sampai kapanpun sepertinya guru akan sulit bahkan mustahil untuk bisa menyaingi keunggulan Mbah Google dan YouTube sebagai pemasok dan gudang data,
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
MELIHAT asal muasal dalam bahasa aslinya, yakni Bahasa Sanskerta, arti kata “guru” sebetulnya jauh lebih dalam daripada arti kata “guru” yang ditafsirkan atau bahkan yang dipersepsi oleh publik pada umumnya di Indonesia.
Bisa dikatakan, interpretasi orang pada umumnya tentang makna kata “guru” adalah seseorang yang mengajar (pengajar), yang dalam Bahasa Inggris disebut teacher.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun mendefinisikan guru sebagai berikut: orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.
Dari kata guru kemudian muncul kata turunan “berguru, keguruan, menggurui, perguruan” dan lain-lain.
Dari definisi KBBI tersebut, bisa diartikan bahwa guru adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang sebagai pokok penghidupannya.
Dengan demikian, dari sudut sebagai mata pencaharian, secara substansi dapat dikatakan bahwa guru adalah pekerjaan yang tidak memiliki banyak perbedaan dengan jenis-jenis pekerjaan lain seperti sopir, akuntan, penjahit, tukang bangunan, tukang listrik, pengacara, dan lain-lain.
Intinya ialah melakukan pekerjaan untuk mendapatkan penghidupan.
Padahal, tahukah Anda bahwa dalam Bahasa Sanskerta, makna kata “guru” jauh lebih dalam. Guru tidak hanya pengajar tentang pengetahuan atau bidang tertentu.
Baca juga: Google Doodle Rayakan Hari Guru Nasional 2021, Simak Sejarah Tanggal 25 November Menjadi HGN
Menurut Thomas R. Murray dalam Moral Development Theories – Secular and Religious: A Comparative Study (1997), istilah (term) guru adalah kombinasi dari dua kata, yakni ”gu” (berarti kegelapan atau darkness) dan “ru” (berarti cahaya atau light). Digabungkan, dua kata itu diartikan sebagai cahaya yang menyingkirkan kegelapan.
Jadi, lebih dari sekadar mengajarkan pengetahuan (atau sebagai teacher), guru dalam bahasa aslinya juga berarti konselor (penasihat), mentor (pembimbing) yang menanamkan nilai-nilai, keteladanan, dan inspirasi (inspirator) bagi murid-muridnya.
So, guru tidak sekadar mengajar untuk melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge).
Dengan kata lain, peran guru dalam makna asalnya tidak hanya membuat murid sampai pada level tahu (know), dan mengerti (understand), kemudian berhenti sampai di situ.
Guru juga “mencetak” atau membuat muridnya “menjadi” (becoming).
Maksud “menjadi” di sini mencakup aspek yang tidak hanya bermuara pada prestasi akademik dan intelektual murid, tetapi juga pada pertumbuhan aspek batiniah atau budi (akhlak, moral dan spiritual) murid.
Oleh karena itu, dalam tradisi akarnya, menjadi guru justru tidak diawali dari motivasi untuk menjadikannya pekerjaan demi mata pencaharian atau untuk mendapatkan penghasilan. Dengan kata lain, menjadi guru sejatinya tidak karena didorong oleh motivasi utama untuk menjadi pegawai atau karyawan. Sebaliknya, menjadi guru merupakan sebuah panggilan nurani (inner calling), yang itu jauh melampaui kepentingan untuk mencari penghidupan (baca: penghasilan).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/hari-guru-2021.jpg)