Ngopi Santai

Apakah Mbah Google dan YouTube Juga Layak Disebut Guru dan Diucapi 'Selamat Hari Guru'?

Sampai kapanpun sepertinya guru akan sulit bahkan mustahil untuk bisa menyaingi keunggulan Mbah Google dan YouTube sebagai pemasok dan gudang data,

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribunnews
Selamat Hari Guru 2021. Guru bisa menciptakan nilai keunggulan pada aspek-aspek seperti keteladanan akhlak dan perilaku, serta menjadi inspirator bagi murid-muridnya, yang itu tidak bisa dijalani oleh mesin teknologi. 

Di negara-negara Barat, kata guru juga dipakai, tetapi bukan menunjuk pada seseorang yang berdiri di depan kelas (di sekolah), yang mengajari murid-murid pengetahuan tertentu. Untuk yang itu, istilahnya dalam Bahasa Inggris adalah teacher.

Di Barat, penggunaan istilah guru agak mirip dengan makna guru dalam bahasa aslinya, meskipun kadang-kadang di Barat kata itu juga berkonotasi untuk merendahkan (deregatory). Terutama jika  dikaitkan dengan sekte-sekte, dimana posisi guru dikultuskan (dihormati secara berlebihan) dan murid atau anggota sekte menurut atau manut tanpa reserve.

Baca juga: SELAMAT Hari Guru Nasional! Berikut Ini Ucapan, Tema dan Logo HGN 2021

Di atas itu semua, bisa dimaklumi apabila kini guru dimaknai sebagai pekerjaan untuk mata pencaharian –yang tak jauh berbeda dari makna karyawan atau pekerja.

Sepertinya itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Guru sebagai pekerjaan untuk mata pencaharian juga merupakan fenomena jamak dimana-mana.

Bahkan kemudian ada istilah lecturer, yang artinya adalah pemberi kuliah di perguruan tinggi. Disebut dosen dalam Bahasa Indonesia.

Akan tetapi, yang perlu diingat dan diperhatikan adalah apabila  guru dilatari motivasi dan dipandang sebagai semata pekerjaan, dan apalagi guru pun diposisikan sebagai pegawai (tak ubahnya karyawan), maka tantangan yang dihadapi guru masa kini justru  jauh lebih besar. Mengapa?

Jika pekerjaan guru direduksi hanya sebagai penyampai  pengetahuan atau untuk mentransfer pengetahuan ke murid, maka kini guru-guru menemui pesaing yang jauh lebih hebat sebagai gudang pengetahuan. Siapa itu?

Siapa lagi kalau bukan Mbah Google dan YouTube.

Didukung oleh kecanggihan mesin teknologi, Mbah Google dan YouTube menyimpan seabreg data dan pengetahuan, tidak hanya  tentang hal-hal positif, juga hal-hal negatif.

Bahkan mesin teknologi itu makin lama makin atraktif, karena dilengkapi dengan gambar, video dan navigasi yang menarik serta memudahkan penggunanya, sehingga mencari data, informasi dan pengetahuan lewat Mbah Google dan YouTube saat ini makin diminati siapapun.

Oleh karena itu, tidak jarang muncul cerita bahwa murid-murid yang mendapatkan soal/tugas atau PR dari guru sekolahnya, kemudian mencari jawaban atas tugas itu pada Mbah Google dan YouTube.

Bisa dikatakan dengan meyakinkan bahwa sampai kapanpun sepertinya guru akan sulit bahkan mustahil untuk bisa menyaingi keunggulan Mbah Google dan YouTube sebagai pemasok dan gudang data, informasi serta pengetahuan.

Meskipun demikian, tentu saja ucapan “Selamat Hari Guru” tidak layak ditujukan kepada Mbah Google dan YouTube.

Nah, pada titik ini, guru bisa mengambil peran yang tidak dimiliki Mbah Google dan YouTube.

Guru bisa menciptakan nilai keunggulan pada aspek-aspek seperti  keteladanan akhlak dan perilaku, serta menjadi inspirator bagi murid-muridnya, yang itu tidak bisa dijalani oleh mesin teknologi.

Ini berarti mendudukkan posisi guru sebagaimana makna istilah guru dalam bahasa aslinya, yang berarti menyingkirkan kegelapan.

Untuk tujuan itu, tentu dibutuhkan orang-orang yang berangkat dari panggilan hati-nurani sebagai guru.

By the way, Selamat Hari Guru !

Semoga makin banyak terlahir guru-guru sejati yang berdedikasi. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved