Breaking News:

Berita Nasional

Pemerintah Siap Hadapi Varian Baru Covid-19 Omicron, Menkes: Indonesia Punya Laboratorium Canggih

Berikut adalah gejala varian baru Covid-19 Omicron yang belum terdeteksi di Indonesia.

Pixabay/MiroslavaChrienova
Ilustrasi varian baru Covid-19, Omicron. 

TRIBUN-BALI.COM – Seorang dokter penemu varian baru virus corona (Covid-19) Omicron mengatakan bila pasien yang terinfeksi menunjukkan gejala yang tidak biasa.

Dokter yang berasal dari Afrika Selatan itu juga mengatakan bila gejala yang diakibatkan oleh Omicron berbeda dari varian Delta.

Dilansir Tribun-Bali.com dari Tribunnews.com pada Selasa, 30 November 202, Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Dr. Angelique Coetzee menyebutkan bila Omicron ditemukan muncul sekiat 18 November 2021.

"Pasien Covid yang terinfeksi varian baru ini mulai muncul sekitar 18 November," katanya pada hari Minggu, 28 November 2021.

Dr. Coetzee menjelaskan bila pasien pertama yang terjangkit Omicron merupakan laki-laki berusia sekitar 30 tahunan.

Baca juga: Covid-19 Omicron Berpotensi Masuk Bali, Prof Mahardika: Cegah dengan Tutup Akses Internasional

Baca juga: Dikhawatirkan Masuk Bali, Kadiskes Ingatkan Jangan Sampai Kecolongan Covid-19 Varian Omicron

"Ia mengaku 'sangat lelah' selama beberapa hari dan juga merasa nyeri tubuh dan sedikit sakit kepala," jelas Dr. Coetzee.

Meskipun begitu, pasien pertama yang terpapar varian Omicron tersebut tidak menunjukkan gejala yang biasa seperti pada varian Delta sebelumnya, seperti batuk atau pun kehilangan indera pengecap atau penciuman.

"Hanya merasa 'tenggorokannya gatal' bukan sakit," papar Dr. Coetzee.

Dikutip dari laman Russia Today, Dr. Coetzee mengatakan bahwa rekan-rekannya melaporkan kasus serupa dari pasien yang terinfeksi strain Omicron.

Semua pasien itu mengalami apa yang disebutnya sebagai 'gejala yang sangat ringan'.

Ia juga menyampaikan bahwa yang ia ketahui, tidak ada pasien yang terinfeksi Omicron yang dirawat di rumah sakit.

Pengamatannya itu sebagian dikonfirmasi oleh seorang Ahli Virologi dan Kepala Komite Penasihat Menteri Afrika Selatan untuk vaksin Covid-19, Profesor Barry Schoub.

"Sejauh ini, kasusnya cukup ringan, kami juga memiliki program pengawasan rumah sakit di sini dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kasus rawat inap," kata Prof Schoub pada hari Minggu lalu.

Ia menyampaikan bahwa seluruh kasus Omicron yang tercatat sejauh ini menunjukkan gejala 'ringan hingga sedang'.

"Namun ini adalah 'hari-hari awal' dan kita harus menunggu serta melihat untuk lebih memahami bahaya nyata yang ditimbulkan oleh strain baru ini," tegas Prof Schoub.

Baca juga: Covid-19 Omicron Buat Pemerintah Ketatkan Kebijakan, Begini Tanggapan Pelaku Pariwisata di Bali

Prof Schoub juga mengakui bahwa varian ini menyebar 'sangat cepat' dan jumlah kasus Omicron yang dilaporkan di Afrika Selatan meningkat dari sebelumnya hanya di bawah 300 kasus baru sehari menjadi lebih dari 3.200 hanya dalam sehari selama sekitar 10 hari.

Varian Omicron yang diidentifikasi kali pertama di Afrika Selatan ini telah menyebar ke luar kawasan, dengan kasus ditemukan di beberapa negara Eropa terkait dengan pelancong yang datang dari Afrika Selatan.

Penemuan strain tersebut pun memicu gelombang tindakan respons internasional, termasuk pembatasan penerbangan dan perjalanan.

Jepang, Israel dan Maroko bahkan melarang semua pelancong asing, sedangkan Australia menunda pembukaan kembali perbatasannya selama dua pekan ke depan.

Apakah Vaksin Saat Ini Efektif?

Dilansir Tribun-Bali.com dari Kompas.com pada Selasas, 30 November 2021 dalam artikel berjudul Vaksin Sekarang Mungkin Kurang Efektif Lawan Omicron, tapi Masih Ampuh Cegah Varian Lainnya, para pakar mengatakan vaksin-vaksin yang saat ini tersedia bukan jawaban ideal, jadi mungkin saja "tidak akan efektif" menghadapi varian baru.

Tapi bukan berarti vaksin-vaksin ini tak memberikan perlindungan.

Baca juga: UPDATE Covid-19 di Bali Senin 29 November 2021: Bertambah 11 Kasus Positif, 15 Sembuh, 1 Meninggal

Perlu diingat, vaksin-vaksin ini masih efektif memberi perlindungan dari varian Covid lain, seperti Delta, Alpha, Beta, dan Gamma.

Para dokter mengatakan sangat penting bagi kita untuk mendapatkan dosis vaksin yang direkomendasikan, agar kita mendapatkan perlindungan maksimal dari varian yang ada serta varian yang akan muncul di masa mendatang.

Di Inggris, meski angka kasus naik, angka kematian dan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit lebih rendah dibandingkan pada gelombang-gelombang pandemi sebelumnya karena kesuksesan program vaksinasi.

Para saintis akan melakukan banyak uji coba untuk mengetahui apakah vaksin-vaksin yang ada bisa menghadapi varian baru.

Bagaimana dengan varian-varian lain?

Otoritas kesehatan dan pihak-pihak terkait mencermati varian-varian yang telah kita kenal.

Berikut yang masuk kategori variants of concern, varian yang dikhawatirkan dan punya potensi bahaya: Delta: B.1.617.2, pertama kali ditemukan di India; yang paling banyak ditemukan di Inggris saat ini

- Alpha: B.1.1.7, pertama kali ditemukan di Inggris dan sekarang sudah menyebar ke lebih 50 negara

- Beta: B.1.351, pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, dideteksi telah berada di setidaknya 20 negara

- Gamma: P.1, pertama kali ditemukan di Brasil dan sekarang menyebar di lebih 10 negara.

Lantas Bagaimana Penangan di Indonesia Terhadap Varian Omicron?

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki jaringan laboratorium yang mampu mendeteksi varian baru COVID-19 secara cepat.

Baca juga: Covid-19 Omicron Buat Pemerintah Ketatkan Kebijakan, Begini Tanggapan Pelaku Pariwisata di Bali

“Dunia dan Indonesia sekarang sudah jauh lebih cepat dan lebih canggih mengidentifikasi varian-varian baru. Varian baru inilah yang menyebabkan lonjakan. Jadi setiap ada Alfa, Beta, Delta, setiap ada varian baru selalu terjadi lonjakan,” ujarnya dikutip Tribun-Bali.com dari situs Skretariat Kabinet pada Selasa, 30 November 2021.

Hingga saat ini, varian baru Covid-19 Omicron belum terdeteksi di Indonesia, Menkes menegaskan bahwa pemerintah akan memperketat semua jalur masuk negara baik dari darat, laut, maupun udara.

(*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved