Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Panca Dewata, Kaitan Penciptaan Alam Semesta dan Lahirnya Para Dewa

Alam semesta diciptakan oleh Panca Dewata, dari unsur yang halus sampai dengan tingkat yang mempunyai wujud nyata

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
NASA
ILUSTRASI. Alam semesta diciptakan oleh Panca Dewata, dari unsur yang halus sampai dengan tingkat yang mempunyai wujud nyata. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Alam semesta diciptakan oleh Panca Dewata, dari unsur yang halus sampai dengan tingkat yang mempunyai wujud nyata.

Panca Dewata dalam penciptaan alam semesta ini, pertama-tama melahirkan Panca Tanmatra. Bagian Panca Tan Matra, diantaranya adalah dari Brahma lahir Gandha Tanmatra.

Kemudian dari Wisnu lahir Rasa Tanmatra, dari Rudra lahir Rupa Tanmatra, dan dari Sadasiwa lahir Sabda Tanmatra.

“Kemudian kelima Tanmatra ini berkembang dalam wujud yang lebih konkret, yaitu sabda diwujudkan berupa akasa.

Baca juga: Bala Kanda hingga Uttara Kanda, Berikut Bagian Epos Ramayana

Sparsa diwujudkan berupa bayu, Rupa diwujudkan dalam bentuk teja,” jelas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, kepada Tribun Bali, Jumat 3 Desember 2021.

Rasa diwujudkan berupa apah, dan Gandha diwujudkan berupa pertiwi. Kemudian wujud konkret dari pertiwi adalah bumi dan tanah.

Wujud konkret dari Teja adalah matahari, bulan, dan bintang. Wujud konkret dari apah adalah air.

Lalu wujud konkret dari bayu adalah angin. Wujud konkret dari akasa atau suara adalah tumbuh-tumbuhan dan binatang.

“Panca Dewata memiliki peranan sebagai penjaga,” jelas Ida Rsi.

Sebab Brahma berada di selatan dan bertugas sebagai penjaga bumi. Wisnu berada di utara, bertugas sebagai penjaga air.

Rudra berada di barat, bertugas sebagai penjaga bintang, matahari, dan bulan.

Iswara berada di timur, sebagai penjaga udara. Sedangkan Sadasiwa berada di tengah, sebagai penjaga ether.

“Semua ini adalah proses bhuana agung,” imbuh pensiunan dosen Unhi Denpasar ini.

Kemudian untuk proses bhuana alit, kata Ida Rsi, Brahma dan Wisnu menciptakan tubuh dengan menggunakan sarana tanah dan air.

Baca juga: Daksina atau Banten, Cara Mendekatkan Diri dengan Tuhan Dalam Hindu 

Rudra menciptakan mata dari teja. Iswara menciptakan nafas dari bayu, dan Sadasiwa menciptakan suara dari akasa.

“Setelah terbentuk wujud tubuh, maka atman menjelma dalam kehidupan manusia,” jelas Ida Rsi.

Selanjutnya Panca Dewata menempati bagian-bagian, dan menjaga serta menumbuhkan kesadaran dan menjiwainya.

Brahma menempati muladara (pernafasan), Wisnu menempati nabhi (pusar), Rudra menempati hati, Iswara menempati leher, dan Sadasiwa menempati ujung lidah.

“Dalam proses perkembangannya, manusia berperan sebagai alat melalui pertemuan laki-laki dan perempuan,” sebut Ida Rsi.

Yang menjadi benih manusia disebut rupa suksma dengan sifat abstrak dan gaib. Rupa suksma inilah yang menjadi sukla, berwarna manik putih kekuning-kuningan.

Sedangkan swanita keluar dari pradhana tattwa. Sukla dan swanita ini kemudian bercampur dalam rahim, hingga terwujud manusia.

Atau dalam istilah lazim saat ini proses perkawinan antara pria dan wanita untuk melahirkan keturunan.

Ida Rsi melanjutkan, dalam konsep ajaran Ganapati Tattwa disebutkan bahwa pada awal mulanya adalah kosong, yang ada hanya Siwa dan nirguna.

Keadaan itu disebut Sukha Acintya, yaitu keadaan maha bahagia yang tidak terpikirkan.

Baca juga: Sekaa Shanti di Pura, Bagian Penting Panca Gita

Kemudian terjadi evolusi, dari Sang Hyang Sukha Acintya muncullah Sang Hyang Jnana Wisesa atau pengetahuan yang mulia.

“Ia berbadankan alam semesta, tetapi tidak ternoda, tidak terpengaruhi oleh apapun, dan tidak terjangkau.

Ia berkeadaan wisesa, maha kuasa. Ia disebut Sang Hyang Jagat Karana,” ucap Ida Rsi.

Sebab ia memiliki ilmu pengetahuan yang maha kuasa, dan sebagai penyebab dunia atau alam semesta dengan segala isinya.

Lanjut Ida Rsi, ia menampilkan diri dalam aspek saguna. Kemudian ia menciptakan yang berkeadaan nyata (paras).

Serta yang berkeadaan tidak nyata (para) dan sunia sebagai bayanganNya sendiri. Sang Hyang Jagat Karana bersemayam dalam sunia.

“Dari sini beliau mengadakan ciptaanNya berturut-turut,” jelas Ida Rsi.

Diantaranya adalah Ongkara Suddha, suara. Windu prana suci, yang di dalamnya terdapat nada prana jnana suddha.

Dari windu lahir Panca Dewata atau Panca Dewa Atma yaitu Brahma, Wisnu, Rudra, Iswara, dan Sang Hyang Sadasiwa.

Baca juga: Hukum Rta, Berikut Sekilas Ilmu Astronomi Dalam Hindu 

“Kemudian dari kelima dewa tersebut maka Brahma, Wisnu, dan Siwalah yang dipandang sebagai badan perwujudan Tuhan itu sendiri,” kata Ida Rsi.

Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa (Brahman), yang tak terpikirkan atau Acintya dilukiskan berada dalam hati dan batin yang suci, yaitu disebut Guhyalaya.

“Sedangkan untuk memuja beliau menggunakan Catur Dasaksara, yaitu Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang, Ang, Ung, Mang, Ong,” sebut Ida Rsi.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved