Berita Denpasar
Pengeroyokan di Denpasar, Polisi Sebut karena Salah Paham
Kasus pengeroyokan yang terjadi di Jalan Gunung Soputan, Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu ternyata karena masalah sepele.
Penulis: Firizqi Irwan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ahmad Firizqi Irwan
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kasus pengeroyokan yang terjadi di Jalan Gunung Soputan, Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu ternyata karena masalah sepele.
Aksi yang bahkan sempat viral di media sosial tersebut, bahkan mencuat ada hubungannya dengan geng motor yang membuat resah masyarakat.
Informasi mengenai hal itu ditepis oleh Kapolsek Denpasar Barat Kompol I Made Hendra Agustina didampingi Kanit Reskrim Iptu Eric Andrian.
Baca juga: UPDATE Dugaan Korupsi Dana LPD Serangan, Prajuru dan Panureksa Diperiksa Kejari Denpasar
Menurut Kapolsek Denpasar Barat, kasus tersebut berawal dari para pelaku yang masih berstatus pelajar mengadang jalan yang dilewati korban Yandi Ramdhani dan Elisha Emmanuel.
"Saat itu para pelaku yang masih pelajar ini, berhenti di tengah jalan. Kebetulan korban yang lewat sana, merasa terganggu dengan aksi mereka," ujar Kompol I Made Hendra Agustina, Jumat 10 Desember 2021.
Lanjutnya kepada Tribun Bali, diketahui jika saat itu pada Sabtu 27 November 2021 malam, korban baru saja pulang mengantarkan stiker dari Jalan Mahendradata menuju Jalan Gunung Soputan ke arah timur.
Di tengah jalan, gerombolan anak-anak ini menghalangi jalan korban dan saat itu Yandi menanyakan maksud para pelaku menghalangi jalan mereka.
Baca juga: Perketat Prokes, Polsek Denpasar Selatan Pantau Warga di Seputaran Pantai Sanur
"Dari kelompok terlapor ini kemudian menjawab menggunakan bahasa Bali, tapi korban tidak mengerti," tambahnya.
Korban yang tidak mengerti bahasa mereka, kemudian sempat cekcok dengan pelaku yang masih berusia belasan tahun, masing-masing AH 16 tahun, TJ 15 tahun dan GA 16 tahun.
Terjadi miskomunikasi antara mereka, sehingga membuat suasana panas, dari pihak korban, sepeda motor yang dibawa Yandi kemudian menabrak motor salah satu pelaku dengan sengaja.
Kaget dengan sikap korban, para pelajar tersebut kemudian kabur karena mengira korban anggota polisi yang tengah bertugas dan memakai pakaian preman.
Namun, tanggapan para pelaku yang mengira korban polisi membuat mereka balik menyerang, setelah korban Yandi melempar helmnya ke arah pelaku.
"Mendapati perlakuan itu, para pelaku yang kabur, justru balik menyerang karena emosi dan menyakini jika korban bukan anggota polisi," jelas Hendra.
Baca juga: Perketat Prokes, Polsek Denpasar Selatan Pantau Warga di Seputaran Pantai Sanur
Saat itu juga, korban Yandi diserang oleh salah satu pelaku, bahkan Elisha yang melihat temannya dianiaya mencoba menolong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kapolsek-denpasar-barat-kompol-i-made-hendra-agustina-didampingi-kanit-reskrim-iptu-eric-andrian.jpg)