KISAH Ida Pedanda Nabe Gede Buruan, Mulai Jadi Dosen hingga Madiksa Sebagai Sulinggih
Beliau sebelumnya menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Dan mengajar sejak tahun 1984, setelah diangkat menjadi dosen
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
"Awalnya saya berencana madiksa tahun 2020, setelah pensiun. Namun ternyata harus madiksa sebelum itu yakni tahun 2007," sebut ida pedanda.
Kala itu, beliau menceritakan, bahwa sebelum malinggih menjadi sulinggih sempat bermimpi bertemu dengan leluhur beliau.
"Kebetulan mimpi ketemu ida pedanda istri yang sudah lebar (meninggal). Dan beliau memberitahu agar saya menjadi sulinggih," ucap beliau.
Mimpi itu terasa sangat nyata, sehingga beliau sempat bercerita kepada sang istri (pedanda istri) tentang mimpi tersebut.
Kisah unik nan mistis lainnya, adalah tatkala beliau mati raga dan keesokan harinya ada suara genta di merajan.
Nampak seperti pertanda bahwa ida bhatara-bhatari memberi karunia pada proses madiksa beliau bersama pedanda istri.
"Bahkan sampai saat ini pun, menjalankan swadharma sebagai sulinggih tidak ada kesulitan berarti yang saya rasakan," jelas beliau.
Sebab beliau selalu ikhlas menjalankan swadharma menjadi sulinggih. Bahkan pengalaman unik beliau, pernah muput sampai belasan upacara yadnya dalam satu hari.
Sebelum menjadi dosen, beliau sempat menjadi guru agama Hindu, Budi Pekerti, Bahasa Bali, hingga Bahasa Indonesia.
"Saya juga menjadi dosen agama Hindu dan bahasa Bali di Unwar, IKIP PGRI, UN Dwijendra," sebut beliau.
Baca juga: Buka Lokasabha PSN III, Gubernur Bali Wacanakan Beri Pinandita dan Sulinggih BPJS Ketenagakerjaan
Beliau juga memberikan pembinaan kepada para bendesa, sekaa shanti, pemangku, serati sejak tahun 2000.
Beliau juga kerap membuat buku, dan telah menghasilkan lebih dari ratusan buku.
Sekitar lebih dari 150 buku telah berhasil beliau ciptakan, seperti buku tentang upakara banten, Wariga, bayuh, oton, dan lain sebagainya. Hingga saat ini beliau masih menjalani swadharma sebagai sulinggih.
Sudah 17 tahun beliau menjalaninya, dan kini beliau telah memiliki dua nanak napak, dua pedanda dan nanak seorang rsi bhujangga. Satu orang nanak waktra, guru saksi 11 orang.
Beliau berharap agar generasi muda, yang akan menjalankan swadharma sebagai wiku bisa belajar sejak dini. Agar tidak kaget dan bisa menjadi seorang sulinggih, wiku yang ikhlas, Dharma, serta membantu umat dengan segala ilmu agama Hindu yang baik dan benar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pedanda-nabe-gede-buruan-dfgg.jpg)