Berita Badung

Desa Adat Pecatu Badung Sepakat Tak Buat Ogoh-ogoh

Tidak dilaksanakan pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh itu pun disebut-sebut sudah sesuai dengan kesepakatan prajuru banjar dan perwakilan yowana

Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Satu persatu Bendesa adat di Badung sepakat tidak melaksanakan pembuatan atau pengarakan ogoh-ogoh saat hari raya nyepi yang jatuh pada bulan Maret tahun 2022.

Seperti halnya di Desa Adat Pecatu memastikan tidak melaksanakan pembuatan dan pawai ogoh-ogoh.

Tidak dilaksanakan pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh itu pun disebut-sebut sudah sesuai dengan kesepakatan prajuru banjar dan perwakilan yowana di setiap banjar.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta saat ditemui Senin 24 Januari 2022 mengatakan bahwa dirinya sudah melaksanakan rapat dengan menghadirkan para yowana, Kelian Banjar, Kerta Desa Saba Desa, Kelian Banjar dan Kelian Tempekan.

Baca juga: Penanganan Dugaan Korupsi di Bank BUMN Naik ke Penyidikan, Kejari Badung Periksa 5 Pemrakarsa Kredit

Pada rapat tersebut pihaknya menyepakati untuk tidak membuat dan melaksanakan pawai ogoh-ogoh.

"Jadi kami sepakat di Desa Adat Pecatu tidak membuat dan melaksanakan pawai ogoh-ogoh dengan pertimbangan Surat Edaran Gubernur Bali dan MDA," katanya.

Meski kondisi covid-19 di Badung melandai, namun cenderung tetap ada.

Selain itu pihaknya mengaku dalam pelaksanaan pawai ogoh-ogoh harus di diusulkan oleh yowana dengan disepakati oleh tim covid-19.

"Atas pertimbangan itu, dengan waktu yang singkat yakni jam 8 malam harus sudah selesai dan peserta maksimal 50 orang, maka disepakati tidak melaksanakan pembuatan atau pawai ogoh-ogoh," ucapnya

Terlebih katanya, Polri juga meminta yang melaksanakan pawai wajib PCR sedangkan di SE MDA harus melihatkan hasil rapid antigen negatif.

Selebihnya, kata Sunarta, kalau pun pemuda melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh, dan mengajukan proposal kepada pengusaha atau perorangan pasti tidak maksimal. Mengingat saat ini semua masih terdampak covid-19.

"Jadi semua terdampak, baik pengusaha yang ada di kewenangan kita, atau perseorangan. Sehingga kita coba arahkan adik-adik kita agar saling mengerti,  Astungkara semuanya sudah bersepakat dan tidak ada keluhan.

Namun jika sudah normal kembali mari kita nanti sama-sama membangun budaya kita," jelasnya.

Disinggung berapa banjar yang ada di Pecatu, Sunarta yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Badung itu mengaku di Desa Adat pecatu terdapat 9 Banjar dinas, 3 banjar adat dan tempekan ada sebanyak 19.

Baca juga: Buntuti Pemuda Asal Surabaya ke Mengwi,Petugas Polres Badung Berhasil Amankan Narkoba Senilai Rp 2 M

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved