Berita Gianyar
Selamatkan Isi Pengetahuan dalam Lontar, Griya Kelod Cebaang Gianyar Digitalisasi Lontar Kuno
Selamatkan isi pengetahuan dalam lontar, Griya Kelod Cebaang Gianyar digitalisasi lontar kuno
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Lontar selama ini menjadi salah satu kekayaan ilmu pengetahuan masyarakat Bali, yang tertulis dalam lontar.
Dan, tidak semua keluarga memiliki warisan yang ditulis menggunakan aksara bali itu.
Dikarenakan bahan lontar mudah rusak, sehingga tak sedikit lontar saat ini sulit untuk dibaca.
Secara umum, lontar biasanya memuat ajaran tentang obat-obatan tradisional bali, tata titi kehidupan beragama Hindu di Bali hingga petuah.
Dalam mengantisipasi lontar yang diwarisi leluhur tidak rusak, pengelisir Griya Kelod Cebaang, Desa Seronggo, Kecamatan Gianyar melakukan alih media-kan lontar kuno ke bentuk digital.
Proses digitalisasi dilakukan untuk menyelamatkan arsip-arsip lontar yang sudah tersimpan sejak ratusan tahun silam.
Terlebih saat ini, lontar yang diwariskan turun temurun mulai mengalami kerusakan yang disebabkan faktor usia lontar.
• Tugboat Fortuna Samudra Terdampar di Perairan Karangasem karena Kehabisan BBM
• KISAH PILU, Anak Yatim Ini Gendong 2 Adik Sambil Sekolah di SD, Fakta Sebenarnya Bikin Syok
• Perkuat Kesepahaman, PLN Lakukan Konsultasi Publik di Melaya Bali
Penglingsir Griya Kelod Cebaang Ida Bagus Putu Manuaba, Senin 24 Januari 2022 mengatakan, pihaknya tidak mengetahui berapa usia lontar yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
Namun sebagai generasi yang hidup di zaman digital, pihaknya pun melakukan alih media dari lontar ke dalam media digital.
"Keberadaan lontar di sini, saya selaku Penglingsir belum tahu ada sejak kapan. Yang jelas sudah 7 keturunan lontar ini sudah ada di sini. Tapi diyakini setiap generasi menambah koleksi lontar yang ada. Jumlahnya diperkirakan mencapai 210 lontar. Namun kini kondisinya mulai rusak. Makanya sekarang ada ide untuk diarsipkan dalam bentuk digital," jelasnya.
Kata dia, sebelum dilakukan digitalisasi, ratusan lontar direstorasi terlebih dahulu.
Proses restorasi ini dilakukan untuk memperjelas kembali tulisan aksara yang terdapat dalam lontar agar dapat dibaca kembali.
Digitalisasi lontar sebagai salah satu upaya generasi penerus untuk menyelamatkan isi lontar yang saat ini sudah mulai lapuk dimakan usia.
Dia menjelaskan, restorasi dilakukan menggunakan minyak kemiri yang sudah dibakar, kemudian diusapkan di atas lontar hingga tulisan di dalam lontar jelas kembali. Tulisan aksara yang sudah jelas inilah kemudian di foto untuk pendigitalisasian.
"Ratusan lontar ini dilakukan digitalisasi untuk penyelamatan arsip," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/griya-kelod-cebaang-desa-ser.jpg)