Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Nasional

FAKTA BARU: LPSK Sebut Ada Dugaan Polisi Membiarkan Kerangkeng Milik Bupati Langkat Nonaktif

LPSK temukan adanya idikasi pembiaran terstruktur soal kerangkeng atau penjara manusia di kediaman Bupati Langkat Nonaktif.

Penulis: I Putu Juniadhy Eka Putra | Editor: Harun Ar Rasyid
Sumber: Dok. Polda Sumut via KOMPAS.com
Tim gabungan dari Polda Sumut mendatangi kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin-angin. Hana, istri salah satu penghuni tempat rehabilitasi di rumah Bupati Langkat nonaktif, buka suara terkait isu perbudakan yang mencuat ke publik. 

TRIBUN-BALI.COM – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menemukan fakta-fakta baru soal kerangkeng atau penjara manusia yang berada di kediaman Bupati Langkat Nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

LPSK menyebutkan bila ada pembiaran terstruktur dari pihak kepolisian soal keberadaan kerangkeng yang berada di kediaman Bupati Langkat Nonaktif.

Hal tersebut pun disampaikan Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi di Kantor LPSK, Jakarta Timur pada Senin, 31 Januari 2022.

Edwin menyebutkan jika adanya dugaan pembiaran soal keberadaan kerangkeng tersebut berdasarkan kunjungan LPSK dan lama kerangkeng manusia tersebut ada.

Diperkirakan kerangkeng penjara manusia tersebut telah ada sejak 10 tahun silam.

“Karena kami melihat, kerangkeng in ikan sudah beberapa tahun, pasti ada pemberian di sin,” jelas Edwin dikutip Tribun-Bali.com dari Tribun-Medan.com pada Selasa 1 Februari 2022 dalam artikel berjudul 17 Temuan LPSK di Rumah Bupati Langkat: Kabar Ada Kerangkeng III sampai Pembiaran oleh Polisi.

Selain itu, LPSK pun menemukan adanya dugaan pungutan dalam kerangkeng tersebut.

Pihak Keluarga Korban Diminta Menandatangi Surat Perjanjian

Sebelumnya Edwin mengungkapkan jika pihak keluarga korban kerangkeng atau penjara manusia di kediaman Bupati Langkat Non Aktif diminta untuk menandatangani surat perjanjian saat memasukkan anggota keluarganya.

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi saat konferensi pers di Kantor LPSK, Jakarta Timur, Senin 31 Januari 2022
Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi saat konferensi pers di Kantor LPSK, Jakarta Timur, Senin 31 Januari 2022 (Rizki Sandi Saputra)

Lebih lanjut, Edwin menyebut terdapat satu poin dalam surat perjanjian tersebut yang meminta pihak keluarga tidak boleh menjemput penghuni selama batas waktu yang ditentukan.

Bahkan, pihak keluarga tak akan menuntut jika anggota keluarga mereka sakit atau meninggal dunia.

Baca juga: Dua Setengah Kancing, Kode Penganiayaan di Penjara Pribadi Bupati Langkat, Apa Artinya?

Edwin menyatakan, surat bermaterai itu ditandatangani oleh pengurus sel dan pihak keluarga penghuni kerangkeng.

"Bahwa tak boleh dijemput, harus di situ satu setengah tahun dan bahkan jika sakit dan meninggal tidak bertanggung jawab dan dinyatakan dalam surat pernyataan tersebut pihak keluarga tidak akan menuntut apa pun,” jelasnya saat konferensi pers di Medan pada Sabtu 29 Januari 2022.

Jadi hal-hal tersebut menurut kami cukup menjadi satu petunjuk yang mengarah pada perdagangan orang," kata Edwin dikutip Tribun-Bali.com dari Kompas.com pada Senin, 31 Januari 2022 dalam artikel berjudul Keluarga Diminta Tanda Tangani Surat Tak Menuntut jika Penghuni Kerangkeng Bupati Nonaktif Langkat Meninggal.

Kerangkeng di Kediaman Bupati Langkat Nonaktif Memakan Korban Lebih dari Satu Penghuni Meninggal

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved