Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Memuja Siwa Raditya, Berikut Maknanya dalam Panca Sembah

Biasanya panca sembah, dilakukan saat persembahyangan bersama di pura saat piodalan atau upacara agama. Dan dipandu oleh pemangku atau penglingsir

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
suasana sembahyang bersama di upacara ngaben 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Panca sembah atau lima sembah, adalah tata cara sembahyang yang umum dikenal dalam Hindu Bali.

Biasanya panca sembah, dilakukan saat persembahyangan bersama di pura saat piodalan atau upacara agama. Dan dipandu oleh pemangku atau penglingsir.

Panca sembah terdiri dari lima tahapan sembahyang.

Diantaranya muspa puyung, atau sembahyang dengan tangan kosong.

Baca juga: Makna Upacara Matipat Bantal atau Upacara Mamitan Dalam Hindu 

Kemudian sembah ke Bhatara Siwa atau Surya Raditya.

Lalu sembahyang ke hadapan bhatara-bhatari di tempat suci atau pura seseorang itu berada.

Dilanjutkan dengan memohon anugerah yang biasanya ditujukan kepada Bhatara Samodaya. Hingga yang terakhir ditutup kembali dengan sembah puyung (tangan kosong).

Sarana sembahyang tentu saja bunga dan kuangen, serta dupa yang menyala.

Dari berbagai sumber yang dihimpun Tribun Bali, banyak pula yang sebelum sembahyang panca sembah. Terlebih dahulu menghaturkan puja Tri Sandya.

Baru kemudian setelahnya dimulai dengan muspa puyung.

Sembah tangan puyung ini penting, sebagai simbol menghadirkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bersifat nirguna di dalam diri terutama pikiran.

Dalam Bhagawadgita XII.7 disebutkan bahwa 'Tesham Aham Samuddharta Matyu Samsara Sagarat Bhavani Nachirat Partha Mavy Avesita Chetasam'.

Arti kutipan itu, adalah yang pikiran mereka tertuju padaku, dengan segera dan langsung, aku bebaskan mereka ini dari lautan sengsara, hidup, lahir dan mati, oh Parta.

Kemudian setelah itu, ada sembah yang ditujukan kepada Bhatara Siwa atau Surya Raditya. Dengan sarana bunga berwarna merah atau putih, sembah kali ini merupakan simbol penciptaan kembali. Agar beliau dari sifat Nirguna Brahman untuk menjadi sinar suci (div), dalam manifestasi Tuhan menjadi Dewa Siwa atau Dewa Surya. Raditya sendiri berarti sinar suci.

Baca juga: Cintai Agama Hindu, Warga New Zaeland Jalani Upacara Sudhi Wadani di Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved