Serba Serbi
Memuja Siwa Raditya, Berikut Maknanya dalam Panca Sembah
Biasanya panca sembah, dilakukan saat persembahyangan bersama di pura saat piodalan atau upacara agama. Dan dipandu oleh pemangku atau penglingsir
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tentu saja menjadi harapan agar beliau menyinari kehidupan manusia, dengan sinar suci Tuhan sehingga mampu berjalan di jalan kebenaran atau Dharma.
Kemudian sembahyang dilanjutkan dengan menyembah bhatara-bhatari sebagai manifestasi Tuhan juga.
Biasanya saat sembah ketiga ini, menggunakan bunga warna-warni atau kuangen dengan pis bolong.
Umat Hindu akan menyembah bhatara-bhatari sesuai dengan fungsinya masing-masing. Baik itu di merajan maupun di pura yang didatangi untuk sembahyang.
Biasanya pemangku akan memberitahu umat, kepada siapa mereka harus menyembah. Namun apabila tidak, umat bisa bertanya sebelumnya.
Selanjutnya, adalah sembah kepada Bhatara Samodaya dan meminta anugerah. Sebagai titik kulminasi dari keheningan dan sebagai titik kesimpulan permohonan (doa) kehadapan manifestasi Tuhan dalam perwujudan dewa-dewi atau bhatara-bhatari. Saat ini masih pula menggunakan bunga untuk sembahyang.
Barulah diakhiri lagi dengan sembah puyung. Tujuannya mengembalikan sifat dan kekuatan manifestasi Sang Hyang Widhi. Serta meminta anugerah beliau dan sebagai tanda bahwa sembahyang telah berakhir.
Usai sembahyang, maka umat Hindu akan meminta wangsuh pada berupa tirta atau air suci. Kemudian bija atau beras yang ditaruh di antara kedua mata dan beberapa tempat lainnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-sembahyang-bersama-di-upacara-ngaben.jpg)