Berita Gianyar

Gianyar Kecipratan Megaproyek Pusat Senilai Rp34,3 T, Akan Disediakan Bus Listrik di Ubud

Di tahun 2023 nanti, Kabupaten Gianyar mendapatkan megaproyek dari pemerintah pusat. Tak tanggung-tanggung, nilainya sangat bombastis, yakni Rp34,3 T

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Kepala Bappeda Gianyar, I Gede Widarma Suharta 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Di tahun 2023 nanti, Kabupaten Gianyar mendapatkan megaproyek dari pemerintah pusat.

Tak tanggung-tanggung, nilainya sangat bombastis, yakni Rp 34,3 triliun.

Di mana mega proyek tersebut merupakan bagian dari proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ( KSPN).

Adapun kawasan yang menjadi sasaran proyek KSPN di Kabupaten Gianyar ini meliputi tiga kecamatan, yakni Ubud, Tegalalang dan Payangan atau dalam megaproyek ini disebut dengan Proyek Ulapan.

Dalam proyek ini, Ubud akan ditata ulang. Sebab selama ini, dalam kajian pemerintah pusat, pariwisata Ubud mengalami titik jenuh.

Baca juga: Ibu dan Anak Penipu Putri Arab Ikuti Sidang Perdana dari Dalam Rutan Kelas IIB Gianyar

Baik jenuh dalam hal lalu lintas ataupun pembangunan. Karena itu, fasilitas pedestrian dan jalan akan mengalami perubahan besar-besaran. 

Dari segi pembangunan fasilitas pariwisata, di Ubud tidak diperbolehkan lagi ada bangunan baru.

Di mana setiap fasilitas baru, seperti hotel dan akomodasi pariwisata lainnya, akan diarahkan ke Tegalalang dan Payangan.

Dalam mengakses tiga kecamatan ini, para wisatawan akan disediakan fasilitas bus listrik. Semua anggaran bersumber dari APBN. Baik dana kajian maupun proyeknya. 

"Kajian untuk Ulapan ini dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas). Saat ini kajiannya sudah selesai, sudah diserahkan ke Pak Presiden. Anggarannya juga ditetapkan di nasional, yakni sebesar Rp34, 3 triliun. Sumber dananya dari APBN. Pembangunan akan dimulai pada 2023 sampai dengan 2025," ujar Widarma, Jumat 11 Februari 2022.

Kepada wartawan, Widarma mengungkapkan alasan megaproyek ini didapatkan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Di antaranya, disebabkan Ubud yang selama ini menjadi kawasan pariwisata nasional, kondisinya saat ini sudah di titik jenuh. 

"Kunjungan wisatawan di Ubud sudah pada ambang batas. Kalau tidak ada pembenahan, maka kunjungan akan turun. Karena pariwisatanya jenuh. Satu penyebabnya adalah kemacetan," ujarnya. 

Baca juga: 64 Desa di Gianyar Sudah Terima Transferan DD, Anggaran Tahun Ini Turun Jadi Rp 58 Miliar

Kata Widarma, adapun hasil kajian dari Bappenas terhadap Ubud, satu di antaranya adalah kemacetan Ubud disebabkan oleh kapasitas jalan dengan kendaraan yang masuk tidak seimbang.

Hal ini karena tak sedikit dari masyarakat setempat yang menggunakan bahu jalan sebagai lahan parkir mobil, karena tidak memiliki garase di rumah.

Dalam hasil kajian tersebut, kata Widarma, pemecahan masalahnya ada dua, yakni akan dibangun sentral parkir.

" Lapangan Astina Ubud akan dikeruk dibuatkan basemen sebagai sentral parkir. Dua basemen di bawah dan di atasnya akan digunakan sebagai lapangan."

"Basemen tersebut akan bisa menampung 7.000 mobil. Selain itu juga akan dibuatkan sentral parkir Pasar Tradisional Ubud. Dengan adanya sentral parkir ini, penduduk yang ada di Ubud sudah selesai atau tak ada lagi yang parkir di pinggir jalan," tandasnya. 

Selain itu, kita dia, trotoar di Ubud juga akan diperlebar. Dan, jalan yang aksesnya satu arah akan dipersempit sehingga hanya bisa dilalui satu unit kendaraan roda empat saja.

Dengan demikian, lanjut dia, tidak akan ada masyarakat yang parkir di bahu jalan lagi.

"Kendaraan yang masuk Ubud, nanti akan dibuat kantong parkir. Kantong parkir di Desa Singakerta, kantong parkir Banjar Ambengan rencananya di timur Polsek Ubud, dan  kantong parkir Padang Tegal. Lalu trotoar di Ubud akan diperlebar, jalan rayanya disempitkan."

"Dengan begitu kan cukup untuk 1 kendaraan saja, sehingga tidak ada yang parkir di jalan," kata Widarma.

Lalu bagaimana dengan Tegalalang dan Payangan?

Widarma mengatakan di Ubud tidak akan diperbolehkan lagi ada fasilitas pariwisata baru.

"Kalau ada yang ingin membuat fasilitas pariwisata yang baru, akan diarahkan ke Payangan dan Tegalalang. Di Ubud hanya akan mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada. Di Ubud ini akan dibangun terminal bus listrik. Di mana bus listrik ini akan sampai ke Tegalalang dan Payangan," bebernya.

Widarma mengatakan, proyek ini akan mulai berjalan pada tahun 2023.

Di mana pada proyek pertama tersebut, pemerintah pusat menganggarkan sebesar Rp1,8 triliun.

Adapun proyek-proyek di tahun pertama tersebut adalah pembangunan Sentral Parkir Astina, kantong parkir Singakerta dan Padang Tegal.

"Lalu pembangunan touris information center. Lalu pembangunan Teras Ceking Tegalalang, saat ini DID-nya sedang disusun. Toko di timur kawasan Teras Ceking akan dihilangkan. "

"Tokonya akan di bawah. Di tahun pertama itu juga ada pembuatan fasilitas sanitasi dan penataan lalu lintas. Saat ini slot anggarannya sudah ada. Jadi saat ini tinggal mengawal, agar tidak terjadi perubahan," tandasnya. (*)

Berita lainnya di Berita Gianyar

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved