Berita Budaya

Ancaman Psikosomatik, Begini Penjelasan Guru Mangku Hipno

Ancaman Psikosomatik, Begini Penjelasan GMH Ancaman Psikosomatik, Begini Penjelasan GMH

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Harun Ar Rasyid

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Psikosomatik adalah penyakit yang terjadi, karena kegagalan seseorang mengolah dan mengendalikan pikiran, perasaan dan tubuhnya, karena adanya persepsi yang salah di area memori bawah sadar.

Penderita Psikosomatik seringkali bingung ketika ditanya apa yang dipikirkannya. Atau mengetahui apa yang dirasakannya, dan apa yang dilakukan. Namun penderita mengalami simtoma yang jelas terlihat, baik oleh orang lain atau orang - orang di sekitarnya.

"Gejala Psikosomatik biasanya terlihat seperti menurunnya semangat hidup, kehilangan gairah merawat diri, penurunan fungsi pendengaran, penglihatan, daya ingat dan fungsi intelektual lainnya," sebut Guru Mangku Hipno (GMH), kepada Tribun Bali, Senin 14 Februari 2022.

Psikosomatik biasanya bukan hanya dipicu oleh faktor biologis, namun lebih sering dipicu oleh faktor psikologis dan faktor sosial. Misalnya, kata dia, Post Power Syndrom, kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan penghasilan, atau kehilangan sesuatu yang sangat disayangi dan disukainya.

"Psikosomatik biasanya semakin parah dan menjadi depresi saat penderita tidak disembuhkan dalam jangka waktu lama, salah penanganan atau telah kehilangan pikiran senang, perasaan tenang, dan tubuh nyaman," tegas dosen UHN ini.

Penderita Psikosomatik seringkali mencoba menutupi keluhannya dengan mencoba lebih aktif, ikut banyak kegiatan, mencoba ikut berbaur dengan tujuan ikut larut dalam canda tawa. Namun saat pulang dan berada dalam kesendirian kembali mengalami tekanan batin yang kuat.

"Jika sudah mengarah menjadi depresi maka gejala Psikosomatik akan menguat menjadi, perasaan defresif, semakin kehilangan semangat, mudah lelah, kehilangan tenaga. Gejala minornya adalah konsentrasi dan harga diri menurun, perasaan bersalah, rasa pesimisme terhadap masa depan, gagasan membahayakan diri, bahkan muncul ide bunuh diri," jelas GMH.

Selain gejala tersebut penderita Psikosomatik yang telah mengarah ke depresi akan mengalami gangguan tidur, baik insomnia atau hipersomnia yang hampir tiap hari. Kemudian gangguan nafsu makan dan menurunnya keinginan terhadap seksual. Semua gejala tersebut bersifat menetap atau telah berlangsung lebih dari dua minggu.

"Untuk menangani Psikomatik dengan tuntas, dibutuhkan kemampuan ekstra dengan metode holistik yang terdiri dari tiga pilar pengetahuan penyembuhan yang utama yaitu metode Ilmiah, alamiah dan ilahiah," sebutnya.

Untuk mempercepat tuntasnya penyembuhan psikosomatik maka harus dibarengi dengan olahraga, makan makanan bernutrisi, motivasi dan dukungan keluarga. Serta perhatian lebih pada penderita juga memegang peran yang sangat penting. Mendengarkan keluhan penderita, kesabaran orang di sekitarnya, penghormatan pada penderita, perhatian tulus sangat membantu mempercepat proses penyembuhan Psikosomatik.

"Pasien psikosomatik sangat rentan terhadap penolakan dalam bentuk apapun. Dan sangat senang, tenang dan nyaman jika harga dirinya dinaikan," tegas GMH. Untuk itu dibutuhkan kerjasama orang sekitar dalam membantu kesembuhan penderita Psikosomatik ini. GMH pun menawarkan penyembuhan dengan mengunjungi Brahmakunta Center di Jalan Kebo Iwa, Denpasar.(ask)

Baca juga: Adhyatmika Klesa, Sakit Mental dan Fisik dalam Vedanta

Baca juga: DAFTAR 29 PEMAIN PERSIJA Jakarta yang Siap Tempur Kontra Persebaya, Ada Rekan Egy Maulana Vikri

Baca juga: Menparekraf Apresiasi 3 Sutradara Muda dari Badung yang Dorong Kebangkitan Ekonomi Lewat Film

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved