Berita Denpasar
Jelang Nyepi 2022, BPOM Denpasar Adakan Intensifikasi Bahan Pangan di Pasar Kreneng
Balai Besar POM Denpasar adakan intensifikasi pangan di Pasar Kreneng, Denpasar menjelang perayaan Nyepi di Bali yang akan jatuh pada, 3 Maret 2022 me
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Noviana Windri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar POM Denpasar adakan intensifikasi pangan di Pasar Kreneng, Denpasar menjelang perayaan Nyepi di Bali yang akan jatuh pada, 3 Maret 2022 mendatang.
Kegiatan ini turut mengambil beberapa sampel seperti berbagai jenis kerupuk mentah, terasi yang warnanya mencolok dan tidak memiliki izin edar BPOM, dan jaje begina (jajan untuk banten di Bali) yang memang warnanya merah muda mencolok.
Putu Ekayani selaku Pengawas Farmasi Makanan Muda BBPOM Denpasar yang kebetulan melakukan kegiatan intensifikasi tersebut mengatakan beberapa makanan yang ia curigai mengandung bahan-bahan berbahaya.
"Ada terasi yang kita curigai itu seperti terasi Lombok yang tidak ada ijin edar BPOM. Kemudian ada juga yang kita curigai teri sudang yang mengandung formalin tapi masih kita curigai, kita uji dulu apakah benar terbukti mengandung formalin atau tidak. Kemudian ada juga tahu, tahu susu kita coba cek apakah ada bahan formalin," jelasnya pada, Selasa Maret 2022.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, namun dari beberapa sampel yang dicurigai tidak banyak rasanya yang membuktikan.
Baca juga: Dishub Buleleng Dipinjamkan Motor Listrik Untuk Padamkan LPJU Saat Nyepi
Baca juga: Jelang Hari Raya Nyepi, Warga Nusa Penida Mulai Pulang Kampung Lewat Pelabuhan Sanur
Baca juga: KUMPULAN Ucapan Hari Raya Nyepi Dalam Beberapa Bahasa, Bisa Dikirim via WA dan Status FB
Kendati demikian ia tetap berpatokan terhadap hasil uji rapid tes kit sampel.
Untuk melakukan pengujian sampel ini, Putu menjelaskan pada proses preparasinya yang cukup memakan waktu yakni sekitar 1 sampai 2 jam tergantung pada jumlah sampel yang diuji.
Sementara itu untuk proses pengujiannya hanya memakan waktu 15 menit. Ia juga menjelaskan alasan, mengapa terasi dan sampel-sampel lainnya yang telah diambil dicurigai.
"Kenapa terasi dicurigai? Karena tidak ada izin edar dari BPOM kalau pangan yang namanya terasi dijual dan diedarkan kan harus ada izin edar. Karena belum ada izin edar dan warnanya juga mencurigakan tapi belum tentu mengandung karena yang membuktikan hasil lab," tambahnya.
Jika nantinya ditemukan beberapa dari sampel ini mengandung bahan berbahaya seperti Rhodamin B, Boraks dan lainnya ia telah berkoordinasi dengan kepala pasar untuk memberikan ketegasan pada pedagang agar tidak menjual lagi produk berbahaya tersebut.
Intensifikasi bahan pangan ini tidak hanya dilakukan jelang hari raya saja.
Putu mengatakan kegiatan ini sudah sering dilakukan di beberapa Pasar Kota Denpasar. Seperti di Pasar Badung, Pasar Nyanggelan Tukad Pakerisan, dan Pasar Sanur.
"Hampir semua pasar di Denpasar sudah dicek. Kalau Pasar Nyanggelan Pakerisan sudah masuk nominasi 6 besar pasar aman dari bahan berbahaya dan sudah dilombakan. Sehingga mereka sudah bisa menguji sendiri bahan-bahan pangan yang mereka jual. Dan memiliki test kit sendiri," imbuhnya.
Menurutnya sejauh ini, hampir semua produk pangan di Bali sudah aman.
Baca juga: Belum Genap Setahun Dipenjara, Sudama Diana Tidak Terima Remisi Nyepi
Baca juga: Pemkot Denpasar Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi Caka 1944, Ajang Mulat Sarira &Menyama; Braya
Baca juga: Sejumlah Tenant di The Nusa Dua Bali Siap Menyambut Wisatawan, Paket Nyepi Mulai Rp 1 Juta
Selain itu beberapa pasar lain juga sudah menjual bahan pangan yang aman dan bagus.
Pihaknya pun sudah lakukan pemusnahan bahan pangan berbahaya dari oknum yang memang kebanyakan datang dari luar Bali. (*)